Soal Pemotongan Bansos, Pak RW Bilang Begini, Pak Dukuh Bilang Begitu
Peristiwa

Soal Pemotongan Bansos, Pak RW Bilang Begini, Pak Dukuh Bilang Begitu

Paliyan,(gunungkidul.sorot.co)--Pemotongan uang hasil pencairan Bantuan Sosial Tunai (BST) Kementerian Sosial (Kemensos) di Padukuhan Giring, Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan, menuai polemik. Selain tak jelas peruntukannya, warga bahkan dibentak saat ditagih uang.

Pemotongan uang BST dilakukan setiap kali warga usai melakukan pencairan. Pada pencairan uang Rp 300 ribu selama tiga kali, warga dipotong Rp 50 ribu. Hal yang sama juga dilakukan saat warga menerima bantuan BST Rp 600 ribu, dimana pemotongan dilakukan sebesar Rp 65 ribu.

Ketua RW, Harso menjelaskan bahwa uang yang dikumpulkan dari warga bukanlah uang bantuan. Uang tersebut merupakan iuran swadaya dan sudah disepakati oleh masyarakat.

"Sudah kesepakatan masyarakat. Bukan saya yang menentukan," katanya saat dikonfirmasi, Sabtu (09/11/2020).

Ia mengungkapkan bahwa sebelum melakukan penarikan ke masyarakat, umumnya pengurus di padukuhan setempat menggelar rapat. Bila ada kebutuhan, maka warga akan ditarik swadaya. Rapat dilakukan bersama dukuh, bendahara padukuhan, ketua RW, ketua RW serta tokoh masyarakat untuk memutuskan. 

"Kebetulan pas dapet itu, setor sama saya," ungkapnya.

Sementara Dukuh Giring, Saryanto, membantah bila ada pemotongan uang BST yang diterima masyarakat di wilayahnya. Ia menyebut, tarikan yang dilakukan pengurus padukuhan bersifat sukarela.

"Yang dapat menyisihkan untuk kas dusun, bukan potongan," kata dia.

Terkait jumlahnya, ia berujar bahwa karena bersifat sukarela maka tidak menentukan nominal. Ia menolak bila iuran sukarela tersebut dianggap dipatok.

"Bebas, alakadarnya itu," kata dia.

Dijelaskan Saryanto bahwa iuran sukarela dari masyarakat dikumpulkan untuk keperluan kegiatan di tingkat padukuhan. Cara pengumpulannya pun dengan warga datang ke Ketua RW untuk selanjutnya disetor kepada Bendahara Padukuhan yang juga mantan Sekdes setempat, Supanggih.

"Sama sekali tidak datang. (Masyarakat yang dateng ke Pak RW) Iya seperti itu. Kalau Pak RW yang dateng kan itu istilahnya kaya potongan," katanya.

Sementara terkait uang iuran tersebut pihaknya mengungkapkan bahwa tidak ada rapat yang dilakukan pengurus di tingkat padukuhan untuk melakukan penarikan.

"Ya tidak dirapatkan," kata dia.

Menurut Saryanta kebijakan seperti ini pun terjadi tidak hanya di wilayahnya, namun juga di padukuhan lain di Kalurahan Giring.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga Padukuhan Giring, Desa Giring, mengeluhkan adanya pemotongan uang BST dari pemerintah pusat setiap kali selesai melakukan pencairan. Bahkan warga dibentak oleh Ketua RW saat datang menagih ke rumah.