Hajatan Dilarang Tapi Wisata Dibuka, Kebijakan Pemerintah Dinilai Kurang Tepat
Pemerintahan

Hajatan Dilarang Tapi Wisata Dibuka, Kebijakan Pemerintah Dinilai Kurang Tepat

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Kebijakan pemerintah yang menerapkan sejumlah aturan saat masa Penerapan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) dinilai kurang tepat. Salah satu poin instruksi yang kini ramai diperbincangkan dikalangan masyarakat termasuk pelaku seni yakni larangan digelarnya pesta hajatan.

Riyanto, salah satu Seniman Gunungkidul mengatakan, dengan adanya aturan tersebut sejumlah acara hajatan terpaksa batal. Tidak hanya sebatas pembatalan, namun warga yang gagal menggelar hajatan diperkirakan mengalami kerugian materi. Sebab tradisi munjung telah dilaksanakan sebelumnya acara dilaksanakan.

"Aturan kurang tepat dan sepihak. Kalau orang piknik batal nggak apa-apa. Tapi kalau orang hajatan sudah terlanjur munjung dan menyebar undangan. Belum lagi sudah DP persewaan," keluh Riyanto, Senin (11/01/2021).

Sementara itu Grup Dagelan Trio Gabus yakni Gathot, Baut, dan Sarintem mengatakan, meski mereka kompak untuk mengikuti aturan yang ditentukan oleh pemerintah, namun tidak dipungkiri bahwa tidak diizinkannya hajatan secara otomatis membuat job yang sebelumnya mereka terima kini dibatalkan. Hal itu pun juga dialami ratusan seniman di Gunungkidul. 

Mbah Baut juga turut mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak memberikan izin digelarnya hajatan, namun tempat wisata yang juga berpoteni menimbulkan kerumunan justru tetap dibuka. Jika wisata dibuka dengan prokes yang ketat, katanya, gelaran hajatan juga siap digelar dengan prokes ketat.

"Yang kami agak belum mengerti kegiatan kami dihentikan yang notabenenya ruang lingkup kami hanya berskala kecil. Tapi anehnya tempat wisata tetap dibuka meskipun dengan prokes. Bukannya selama masa pandemi kami juga udah melaksanakan prokes itu? Tapi kita mencoba yakin aja pada beliau yang duduk di pemerintahan udah punya kebijakan yang mungkin udah diperhitungkan. Kita berharap ada kebijakan tersendiri bagi kami," tutur Mbah Baut.

Sama halnya dengan Mbah Baut, Gathot Sujarno dan Niken Sarintem juga mengalami pembatalan job manggung. Mereka sepakat untuk mengikuti dan menerima aturan yang telah ditetapkan. Hanya saja mereka berharap aktivitas yang diperbolehkan juga bisa saling menjaga. Dengan demikian tujuan untuk menurunkan angka kasus Covid-19 bisa tercapai.

"Apa artinya jika yang tidak diperbolehkan manut, kalau yang diperbolehkan tidak bisa toleran. Harapannya petugas terkait harus giat dalam pengawasan dan tindakan. Kemarin kami selalu memberi himbauan di tempat hajatan pada tamu. Yang gak pake masker kami minta pake, yang belum cuci tangan kami minta cuci tangan dulu," kata Gathot.

"Harapannya saat PSBB 14 hari ya ada yang mengganti kami yang memberikan himbauan langsung terjun ke lokasi. Contoh di pusat perbelanjaan yang buka ya harus ada yang bertugas memberikan informasi langsung pada pengunjung," tutupnya.