Hari Ketiga PSTKM, Omzet Pedagang di Taman Kuliner Anjlok Parah
Ekonomi

Hari Ketiga PSTKM, Omzet Pedagang di Taman Kuliner Anjlok Parah

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Memasuki hari ketiga Penerapan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PSTKM) di Kabupaten Gunungkidul semakin dirasakan dampaknya oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) di Taman Kuliner Wonosari.

Terpantau pada Rabu (13/1/2021) siang, kondisi Taman Kuliner Wonosari tampak sepi. Hanya terlihat sedikit pedagang dan pembeli, tidak seperti hari-hari sebelum penerapan PSTKM.

Slamet, seorang pedagang angkringan di Taman Kuliner Wonosari mengatakan, penurunan omzet penjualannya anjlok hingga 70 % pada tiga hari ini. Hal tersebut diakuinya karena memang ada pembatasan yang ditegakkan aparat saat PSTKM.

Pedagang memang dipersilakan menggelar dagangannya seperti biasa, namun mendapatkan pembatasan untuk makan di tempat sampai pukul 19.00 WIB saja. Hal tersebut membuat pelanggan dan pemasukan harian Slamet menurun tajam.

Kalau dulu masih ada sisanya, sekarang kadang hasilnya cuma pas untuk belanja lagi,” keluh Slamet.

Terpisah Ade Jumino alias Mbah Joyo, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Gunungkidul mengatakan kondisi PKL saat ini sangat memprihatinkan. Ia berkata dampak penerapan PSTKM hampir mencapai 100 % untuk PKL, bahkan terkadang malah merugi ketika berdagang. 

Misalnya pedagang buka jam 5 sore, terus persiapan paling tidak satu jam, lha jam 19.00 sudah tidak boleh makan di tempat,” ungkap Joyo.

Menurutnya, ongkos jualan dengan pemasukan PKL sering tidak sebanding dan malah merugi dengan adanya aturan tersebut.

Joyo menambahkan, kuliner pedagang kaki lima itu lebih nikmat ketika dimakan langsung di tempat. Sedangkan kalau dibawa pulang sensasinya akan berbeda. Terlebih di Taman Kuliner Wonosari, PKL di sana selain menjual makanan juga menjual suasana.

Dikatakan Joyo, di Taman Kuliner Wonosari terdapat sekitar 100 PKL dan lebih dari 200 PKL di Kota Wonosari yang tengah kebingunan menghadapi masalah ini.

Lelaki yang juga memiliki usaha kuliner ini juga mengaku terkena dampaknya. Pasalnya pada momen PSTKM kali ini ia pernah mendapat omzet Rp 100 ribu saja dalam sehari, padahal ia memiliki 2 karyawan yang harus dibayar.

Kalau seperti itu apa tidak rugi namanya?” Keluh Joyo lagi.

Joyo mengaku sudah mengupayakan membuat proposal yang ditujukan untuk pemerintah guna mencari bantuan untuk PKL di Gunungkidul, namun belum ada hasil hingga kini. Menurutnya, PKL masih belum tersentuh bantuan pemerintah.

Joyo berharap akan ada kebijakan pemerintah mengenai jam pembatasan pembeli untuk PKL, agar tetap dapat mencari pendapatan lebih. Untuk masalah pandemi Covid-19, Joyo meyaini para PKL di Gunungkidul akan siap menegakan protokol kesehatan.

Semoga ada tenggang rasa dari pemerintah. Jangan pedagang diminta membatasi pembeli pada pukul 7 malam. Tambahlah jamnya sampai jam 9 atau 10 malam,” tandasnya. (Naufal)