Tujuh Tahun Deklarasi, Banyak Warga Masih Bergantung Pada Rentenir
Ekonomi

Tujuh Tahun Deklarasi, Banyak Warga Masih Bergantung Pada Rentenir

Patuk, (gunungkidul.sorot.co)--Memasuki usia 7 tahun Program Deklarasi Anti Rentenir ternyata masih belum bisa mengubah pola pikir sebagian warga yang bergantung pada rentenir. Hal itu disampaikan Haryo Ambar Suwardi, Panewu Patuk di ruang kerjanya pada Rabu (13/01/2021)

Menurut dia, masyarakat saat ini masih ada warga yang terjerat rentenir. Padahal program yang dimulai pada tahun 2014 ini yang sudah digencarkan di seluruh wilayah Kapanewon Patuk.

Dengan keterbatasan saya, tentu saya tidak bisa ke ranah hukum dalam beberapa kasus yang terjadi. Karena hak dan kewajiban saya hanya membina warga,” tutur Haryo.

Berawal dari banyaknya kasus yang merugikan masyarakat akibat terjerat rentenir, Panewu dan jajarannya pun aktif mengembangkan potensi individu masyarakat, seperti potensi produk unggulan setiap desa seperti halnya produk kakao, durian, pisang dan pengembangan koperasi. 

Selama 2 tahun ini Panewu gencar mendorong produk UMKM untuk mendapat sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Bahkan Panewu mengaku tidak segan untuk menjemput bola guna membantu mengurus proses perizinan produk.

Selain itu, perubahan sistem Unit Pengelola Kegiatan (UPK) yang semula hanya digunakan untuk kelompok, saat ini perorangan bisa ikut andil. Hal tersebut untuk mengikis ketergantungan warga pada pinjaman ke rentenir dengan bunga mencekik leher.

Panewu menilai, banyaknya kasus yang merugikan warga seperti kehilangan tanah, bangkrutnya usaha, hingga perceraian seharusnya menjadi pelajaran. Disamping itu, menurut Haryo, penyebab ketergantungan dari rentenir selain sistem peminjaman yang mudah dan berkelanjutan. Selain itu, gaya hidup warga yang tinggi juga menjadi salah satu penyebab warga terjerumus hutang pada rentenir.

Dari berbagai kasus, kebanyakan yang pinjam itu ibu-ibu. Dan kemungkinan dari penghasilan yang kurang dan kebutuhan tinggi, terpaksa harus pinjam dari rentenir,” pungkasnya. (Nadjib)