Aksi Protes Lingkungan, Manah Ati Tebar Benih Ikan di Sungai
Komunitas

Aksi Protes Lingkungan, Manah Ati Tebar Benih Ikan di Sungai

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Aksi protes lingkungan yang dilakukan oleh Komunitas Manah Ati ini terbilang cukup unik. Diketuai oleh Aji warga Padukuhan Paliyan Tengah, Kalurahan Karangduwet, Kapanewon Paliyan, komunitas tersebut melakukan kegiatan tebar benih ikan di Kali Kedung Mundu, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari pada Minggu (04/04/2021).

Aksi tebar benih ikan tersebut merupakan bentuk protes komunitas Manah Ati kepada pihak-pihak yang salah kaprah dalam melakukan kegiatan konservasi.

"Kita merasa ada yang salah dari beberapa pihak yang sebetulnya tujuannya baik tetapi kurang tepat. Misalkan saja banyak dari komunitas atau bahkan pemerintah yang melakukan tebar benih ikan bawal di sungai. Padahal ikan bawal itu bukan asli Gunungkidul, pada akhirnya ikan-ikan yang asli Gunungkidul jadi habis karena bawal itu kan ikan predator. Kalau memang bukan habitatnya ya jangan dipaksakan ada," tutur Aji kepada sorot.co, Senin (05/04/2021).

Aji sangat menyayangkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat atau bahkan pihak pemerintah yang kurang paham konsep atau tujuan dari konservasi itu sendiri. 

"Konservasi itu memperbaiki yang rusak, bukan mengadakan yang tidak ada. Kalau sungainya nggak ada bawal ya jangan di tebar bawal, kan memang itu bukan habitatnya aslinya. Kan dari situ sudah keliru konsepnya," imbuh Aji.

Menurut penuturan Aji, dirinya telah melakukan riset terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan tebar benih ikan di Kali Kedung Mundu. Hasil risetnya menunjukkan bahwa di kali itu ditemukan banyak ikan lokal seperti ikan tawes, ikan sidat dan ikan nelem. Oleh sebab itu dirinya bersama komunitas Manah Ati sepakat untuk menebar ketiga jenis ikan tersebut.

Terpisah, Rinto, warga Padukuhan Paliyan Kidul, Kalurahan Karangduwet, Kapanewon Paliyan, yang juga anggota dari komunitas Manah Ati mengutarakan bahwa kegiatan yang bertajuk Nyaur Utang oleh komunitas ini dimaknai sebagai rasa bahwa manusia sesungguhnya berhutang kepada alam. Sebab segala sesuatu yang telah alam berikan kepada manusia harus dikembalikan untuk keberlangsungan hidup anak dan cucu manusia kelak.

Sejak 2017 lalu, komunitas yang beranggotakan 20 orang ini telah rutin melakukan kegiatan konservasi lingkungan seperti penanaman pohon, pelepasliaran satwa langka dan melakukan kampanye lingkungan.

Selain kegiatan konservasi, komunitas Manah Ati juga bergerak dibidang seni budaya dengan melakukan inventarisasi terhadap potensi-potensi kekayaan budaya lokal Gunungkidul yang saat ini mulai dilupakan.