Kegiatan Keagamaan Saat Ramadhan, Begini Pedoman dari Kemenag
Sosial

Kegiatan Keagamaan Saat Ramadhan, Begini Pedoman dari Kemenag

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Tempat ibadah bagi umat islam yakni masjid dan musala di Kabupaten Gunungkidul diperkenankan untuk menyelenggarakan salat tarawih pada bulan Ramadhan maupun sholat Idul Fitri pada lebaran nanti.

Hal tersebut menyusul terbitnya surat Surat Edaran tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 2021 yang isinya mengizinkan menyelenggarakan kegiatan ibadah di masjid dengan batasan sesuai protokol kesehatan.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul, Arief Gunadi menyampaikan, pihaknya telah menerima edaran terkait pelaksanaan kegiatan keagamaan di Bulan Ramadhan. Pihaknya pun juga sudah membuat edaran serupa, bahkan panduan ibadah lebih konkret ketimbang tahun sebelumnya.

"Pedoman yang disampaikan lebih terperinci, termasuk yang terkait prokes dasar," kata Arief Gunadi, Rabu (07/04/2021).

Namun demikian, penyelenggaraan salat tarawih dan salat Idul Fitri, pihaknya meminta kepada takmir masjid untuk melakukan pembatasan jumlah jamaah yang mengikuti ibadah yakni sebanyak 50 persen dari kapasitas total. 

Pengurus mesjid pun diminta menunjuk petugas yang memantau kedisiplinan prokes dari jamaah yang hadir.

"Pengurus masjid ini akan berkoordinasi langsung dengan Satgas Penanganan Covid-19 setempat. Saat tarawih dan salat 5 waktu, jamaah diwajibkan membawa sajadah dan mukena sendiri. Masker, sterilisasi, cuci tangan dan jaga jarak juga diwajibkan," jelas Arief.

Durasi ceramah pun akan dibatasi maksimal selama 15 menit. Jamaah juga dianjurkan melaksanakan sahur dan buka puasa bersama keluarga inti di rumah masing-masing.

Untuk itu, pihaknya memang akan mengeluarkan pedoman dan diharapkan menjadi pencerahan bagi jamaah.

Sementara itu, Sekda Gunungkidul, Drajat Ruswandono menyatakan akan mengikuti sepenuhnya anjuran yang diberikan demi kelancaran ibadah. Dan untuk Safari Ramadhan, tahun ini akan dilakukan berdasarkan umat yang mengikuti ormas di Gunungkidul.

"Kalau dulu diratakan 18 kapanewonan. Sekarang berdasarkan jumlah anggota ormas seperti Muhammadiyah, NU, MTA ataupun Ormas lain. Bukan kapanewon lagi," terangnya.