Kerap Dipandang Negatif, Ada Cerita Inspiratif Dibalik Penampilan Nyentrik Anak Punk
Sosial

Kerap Dipandang Negatif, Ada Cerita Inspiratif Dibalik Penampilan Nyentrik Anak Punk

Karangmojo,(gunungkidul.sorot.co)--Sebagian masyarakat tentu tidak asing lagi melihat sekumpulan anak muda-mudi dengan pakaian kumal, dengan hiasan rantai, sepatu hitam, bertato, memakai anting dan kerap terlihat mengamen di jalan-jalan.

Mereka menyebut dirinya sebagai punk. Pilihan menjadi anak punk memang tak lepas dari pandangan negatif masyarakat yang belum mengetahui cerita dibalik keseharian mereka. Dikarenakan penampilan yang urakan, terkadang muncul stigma bahwa anak punk adalah sampah masyarakat, kumpulan pemuda yang tidak punya cita-cita, pengangguran, serta pandangan negatif lainnya.

Namun pandangan masyarakat terhadap anak punk yang selalu negatif tidak semuanya benar. Seperti yang di katakan oleh dua anggota komunitas Anak Punk di Gunungkidul, Eno (31) warga Kapanewon Panggang dan Dimas (27) warga Kapanewon Karangmojo.

Eno mengatakan bahwa dirinya sudah bergabung dengan komunitas anak punk sejak tahun 2007. Selain tetap melakukan kegiatan mengamen di jalan, dia juga menekuni usaha sablon Kaos dan sudah mempunyai brand sendiri.

Tak hanya itu, Eno juga kerap mengajak sesama anak punk di Gunungkidul untuk melakukan kegiatan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

"Kami punya kegiatan sosial juga dan tidak semua anak punk itu pengangguran. Penampilan kami memang seperti ini karena ini adalah bentuk ekspresi diri," kata Eno, Minggu (10/10/2021).

Senada dengan Eno, Dimas yang sudah bergabung dengan komouitas anak punk sejak tahun 2017 sempat mendapat penolakan dari keluarga. Setelah mendapat penjelasan akhirnya keluarga bisa memaklumi dan tak mempermasalahkan jalan hidup yang ditempuhnya. 

"Punk itu kan jalan hidup. Setiap orang bisa memilih jalan hidupnya masing-masing dan saya memilih untuk menjalani kehidupan seperti ini," kata dia.

Dengan berbekal tekad dan keyakinan atas apa yang telah menjadi pilihan hidupnya, secara perlahan Dimas bisa menjadi seorang wirausaha serta menjadi bagian dalam grup band yang cukup terkenal.

Mereka mengatakan bahwa punk bukan soal penampilan, tetapi lebih kepada pemikiran. Harapan sederhana mereka agar pemerintah serta masyarakat Gunungkidul untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghasilkan sebuah karya.

"Berilah kami kesempatan seperti masyarakat lainnya untuk membuktikan bahwa anak punk bukan pengangguran, tapi juga bisa berguna buat lingkungan serta biarkan kami mengekspresikan diri kami sendiri," pungkasnya.

Penulis : Shinta Dewi Puspita Sari, Elya Fauzia Hanum. Mahasiswa Prodi PAI 5 STAI Yogyakarta, dalam bimbingan Bapak Hudan Mudaris SEI, MSI.