Demi Sekolah Anaknya, 22 Tahun Ibu Rela Bergelut dengan Sampah
Sosial

Demi Sekolah Anaknya, 22 Tahun Ibu Rela Bergelut dengan Sampah

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Sampah tak melulu menjadi barang yang kotor, menjijikkan dan dibuang karena berbau tak sedap. Bagi Sumarni, sampah adalah sumber penopang kehidupan.

Selama 22 tahun, perempuan paruh baya yang tinggal di Wukirsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari ini hampir setiap hari bergelut dengan tumpukan sampah. Tempat pengolahan sampah yang ada di wilayah setempat adalah lahan manis untuk mengais pundi rupiah.

Mulai pukul 06.00 WIB, perempuan berusia 52 tahun ini sudah menyibukkan diri dengan tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari. Dengan tekun ia memilah sampah, tak peduli tempat kotor dan bau busuk. Demi rupiah, dengan telaten ia kumpulkan untuk biaya hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

"Sudah biasa kalau bau nggak enak dan tempat kumuh kayak gini. Namanya juga pemulung. Cuma kalau lagi kecapekan sering sakit pinggangnya dan pusing juga,” kata Marni sembari tangannya menyapu sedikit demi sedikit gundukan sampah di depannya, Jumat (10/11/2017).

Bekerja menjadi seorang pemulung sudah dilakoninya semenjak bisnis dagangnya tak lagi bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya. Berkat kegigihan dan kesabarannya, walau hanya bekerja sebagai pemulung, Marni mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus SMK. 

Menjadi kepuasan tersendiri, anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya.

Berbalut bajunya yang lusuh, Marni terlihat begitu semangat memilah sampah yang nantinya akan dijual ke lapak pengepul yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari TPAS.

"Ya kalau rata-rata setiap harinya dapat Rp 60.000," ujar perempuan murah senyum itu.

Walaupun kedua anaknya kini sudah bekerja, namun Marni belum berniat untuk berhenti bekerja menjadi pemulung sampah. Sosok pahlawan perempuan bagi keluarga itu tak lantas bermanja-manja dan hanya mengharap belas kasihan dari anak-anaknya. Selagi tubuhnya itu masih mampu bekerja, ia tetap akan mencari rezeki dan tidak menggantungkan diri kepada siapapun. (Ani)