Mbah Sani Hidup Sebatangkara di Bekas Kandang Kambing
Sosial

Mbah Sani Hidup Sebatangkara di Bekas Kandang Kambing

Saptosari, (gunungkidul.sorot.co)--Sungguh miris nasib yang dialami mbah Sani (70), warga Padukuhan Nyemuh, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari. Bagaimana tidak, diusianya yang sudah renta ia hanya hidup sebatangkara di rumah yang tidak layak dihuni.

Bukan rumah sebenarnya, akan tetapi kandang kambing yang ia tutupi dengan plastik bekas di setiap dindingnya. Segala aktifitas ia lakukan di rumah yang tidak layak huni ini. Mulai dari memasak, tidur dan aktifitas lainnya.

Sampai usianya berkepala tujuh, ia sama sekali belum pernah merasakan menikah. Semua kebutuhan hidupnya ia penuhi sendiri saat ia masih mampu bekerja. Namun lantaran usia yang sudah lanjut, semua gerak tubuhnya pun makin terbatas.

Untuk menghidupi diri sendiri ia hanya mengandalkan dari bantuan dari tetangga. Mulai dari makan dan kebutuhan lainnya, warga sekitar pun dengan ikhlas membantu simbah ini untuk bertahan hidup. Pemerintah yang seringkali mengunggulkan program bantuan pada warga yang tidak mampu pun ternyata tidak bisa ia rasakan.

Semasa hidupnya, Mbah Sani belum pernah menerima bantuan sama sekali dari pemerintah. Alasannya karena terkendala data kependudukan yang tidak lengkap.

Jangankan untuk menonton TV, nampaknya lampu peneranganpun ia juga tidak punya. Perabot rumah tangga yang layak digunakan pun juga sangat minim sekali.

Hiburan setiap hari simbah ini yakni hanya bersih-bersih pekarangan dan mengumpulkan sampah-sampah kemudian dibakar. Terkadang ia juga jalan-jalan keliling kampung, untuk sekedar menghibur diri.

Ia patut bersyukur dan berbahagia kali ini. Sebab komunitas Informasi Kedaruratan dan Keperdulian Jogjakarta (IKKJ) yang mendengar informasi adanya warga Gunungkidul yang hidup sebatangkara dengan keterbatasan ekonomi langsung bergerak cepat. Mereka langsung melakukan survei dan memutuskan untuk memberikan bantuan berupa bedah rumah.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, bedah rumah milik Mbah Sani dilakukan oleh IKKJ Gunungkidul dengan dana yang terkumpul dari para donatur. Sedikitnya untuk membangun rumah semi permanen membutuhkan dana sekitar Rp 9 juta.

"Kondisi semacam ini sungguh sangat miris dan memprihatinkan. Kandang kambing digunakan untuk tempat tinggal oleh nenek yang yang sudah sangat renta. Jika dibiarkan terus menerus dapat mengganggu kesehatannya," kata ketua IKKJ Gunungkidul, Arshaka, Jumat (10/11/2017) siang.

Untuk mempercepat pembangunan rumah milik Mbah Sani, warga juga terlibat dengan swadaya tenaga. Selain itu juga menghidupkan kembali sikap gotong royong antar warga. 

"Dari raut wajahya yang sudah keriput itu muncul sedikit simpul kebahagiaan dan pengharapan untuk hidup yang lebih layak lagi," imbuhnya.

Dengan adanya bantuan bedah rumah ini diharapkan beban hidup Mbah Sani dapat berkurang serta kualitas hidupnya juga sedikit lebih terjamin.