Dapat Bisikan Teman, Penjual Jamu Bertahan Puluhan Tahun
Ekonomi

Dapat Bisikan Teman, Penjual Jamu Bertahan Puluhan Tahun

Semin,(gunungkidul.sorot.co)--Sejak 23 tahun terakhir, sejumlah anggota kelompok tani yang beralamat di Sulur II, Desa Kemejing, Kecamatan Semin menekuni usaha pembuatan jamu instan tradisional.

Home industri yang berdiri sejak tahun 1994 ini pun cukup mandiri. Pasalnya bahan-bahan rempah yang mereka olah berasal dari kebun sendiri. Sejumlah warga setempat menanam tanaman rimpang dan rempah seperti jahe, kencur, kunyit, temulawak dan tanaman lain di kebun mereka.

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Kecamatan Semin, Suwarni mengatakan, dalam mengolah jamu tradisional ia dibantu 4 kelompok tani di Desa Kemejing, yang masing-masing terdiri dari 10 orang.

Hasil panen para anggota kemudian disetorkan kepada Suwarni untuk kemudian diolah. Setiap minggunya, kelompok ini mengumpulkan 3 Kg rempah-rempah yang menghasilkan 13 sampai 14 bungkus jamu instan. Sedangkan setiap bungkus jamu bubuk itu dijual dengan harga Rp 5.000/bungkus.

"Untung yang kami dapat berkisar Rp 35.000 per Kg, jadi sekitar 40 % untung yang didapat,” ungkapnya, Senin (13/11/2017).

Untung yang didapat tersebut kemudian mereka gunakan untuk pengembangan usaha seperti membeli alat-alat yang sudah rusak dan keperluan lain. 

Sementara itu untuk pemasaran produk-produknya, diakuinya masih terbatas hanya dengan membuka gerai di rumahnya.

"Pemasaran jamunya biasanya cuma di rumah saja," katanya.

Untuk olahannya sendiri, terang Suwarni, bahan-bahan yang sudah dibersihkan tadi diparut kemudian disaring. Kemudian airnya dipanaskan dan dicampur gula dengan perbandingan 1:1.

Ditanya terkait alasan mereka membuka usaha tersebut, Suwarni menjelaskan bahwa bisnis ini bermula dari nasehat dan resep yang pernah diajarkan oleh temannya. Bisnis tersebut kemudian terus berkembang hingga sekarang. (Ani)