Pembangunan Infrastruktur Imbas Bencana Ditarget Rampung Maret 2018
Pemerintahan

Pembangunan Infrastruktur Imbas Bencana Ditarget Rampung Maret 2018

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Perbaikan jalan dan talud yang rusak karena dampak bencana alam yang melanda Kabupaten Gunungkidul pada Selasa (28/12/2017) sudah mulai dikerjakan oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Ir. Djoko Laleno didampingi Kepala Seksi Pemeliharaan Wadiyana mengatakan terdapat tiga jalan yang di penghujung tahun 2017 ini menjadi fokus pekerjaannya. Ialah jalan yang menghubungkan Kecamatan Semin-Tambakromo, Semin-Umbulrejo dan Desa Sawahan-Pundungsari.

Selain ketiga jalan tersebut, ada pula pembangunan dan perbaikan talud di Padukuhan Gupi serta Padukuhan Ketelo, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari.

"Untuk yang dikerjakan DPU Kabupaten sudah mulai dilakukan perbaikan dan pembangunan. Masa pekerjaan mulai dari 5 Desember 2017, target rampung paling tidak pada 4 Maret 2018 mendatang," kata Wadiyana, Rabu (13/12/2017) siang.

Sementara itu, 11 jembatan yang rusak akibat terjangan banjir juga sudah mulai dilakukan perbaikan. Seperti pada jembatan Bonjing, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Pembangunan jembatan yang putus tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat, lantaran pemerintah kabupaten tidak memiliki biaya untuk pembangunan. 

"Jalan dan jembatan yang rusak parah ada 20 titik, proses penggarapan dibagi menjadi tiga yakni menggunakan dana darurat 2017, dana pemerintah pusat, dan APBD 2018. Untuk yang menggunakan APBD 2018 ada 11 jalan dan jembatan," imbuh dia.

"Secara keseluruhan total dana perbaikan jalan, rumah dan jembatan membutuhkan Rp 100 miliar. Khusus jalan dan jembatan sendiri sebesar Rp 53,7 miliar," tambahnya.

Diperoleh informasi pula, pembangunan talud dan jalan sementara di Padukuhan Ketelo, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari menemui kendala. Alat berat yang didatangkan oleh dinas tidak bisa masuk ke lokasi, sehingga harus melewati jalan Jurang Jero, Kecamatan Ngawen. Padahal terdapat 90 KK terdiri dari 312 jiwa yang terisolir.