Diresmikan Sultan, Museum Kayu Kini Dikepung Rumput Liar
Wisata

Diresmikan Sultan, Museum Kayu Kini Dikepung Rumput Liar

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Museum kayu di kawasan Hutan Wanagama, Kecamatan Playen diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X pada Agustus 1998 silam. Obyek wisata cetusan UGM Yogyakarta tersebut ditujukan sebagai wisata edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

Namun kondisinya saat ini sungguh memprihatinkan. Rumah panggung terbuat dari kayu sebagai wadah berbagai kerajinan kayu kini di sekitarnya dipenuhi rumput liar. Suasana lokasi Museum Kayu pun tampak angker.

Sejumlah wahana di sekelilingnya tampak rusak dan kotor. Kondisi Museum Kayu seakan terbengkalai tanpa ada perawatan sejak beberapa bulan terakhir. Bencana banjir yang menerjang wilayah Gunungkidul, Desember 2017 lalu menjadikan sekitar museum kian parah.

Deputi Pengembangan Museum Kayu, Widyanto Dwi Nugroho mengatakan, kerusakan terjadi pada jalan utama yang saat ini masih dalam perbaikan. Hal itu disebabkan karena terjangan air banjir sungai Oya yang meluap saat bencana lalu.

Diakuinya, Museum Kayu saat ini sedang minim pengunjung yang dimungkinkan karena faktor cuaca. Sebagian pengunjung berasal dari masyarakat lokal maupun luar, terutama rombongan pelajar.

"Tidak bisa berspekulasi tentang pengunjung karena bisa jadi banyak tempat lebih menarik daripada di sini,” katanya, Sabtu (06/01/2018).

Widyanto mengungkapkan, meski perlahan pengunjung berkurang atau bahkan tidak ada, tidak membuatnya sedih. Kejadian itu menjadikannya semakin instropeksi diri untuk membuat Museum Kayu menjadi lebih menarik, nyaman dan tempat edukasi yang diminati. 

“Museum ini menyediakan berbagai macam kerajinan dari kayu, seperti topeng, hiasan pintu, fosil kayu, ukiran wayang, meja kursi ukuran kuno dan berbagai macam patung,” ujarnya.

Di sekitar Museum Kayu disiapkan wahana outbond, wanagama forest adventure, wanagama river tubing dan fasilitas selfi. Museum Kayu ini dibangun atas dasar membangun kesadaran anak generasi muda melalui pendidikan lingkungan dan hutan sebagai bagian dari harmoni kehidupan. (Dilla)