Manusia Tertua di Gunungkidul, Usia 130 Tahun Simbah Masih Segar Bugar
Sosial

Manusia Tertua di Gunungkidul, Usia 130 Tahun Simbah Masih Segar Bugar

Girisubo,(gunungkidul.sorot.co)--Ditemui di kediamannya, siang itu Mbah Ngadikem baru saja selesai mandi dan belum mengenakan pakaian lengkap. Ia tampak bingung ketika sorot.co menyambangi rumahnya.

Ia pun semakin tidak mengerti ketika diajak bicara menggunakan Bahasa Indonesia. Bergegaslah dia mengenakan pakaian dengan lengkap dan mencoba menyuguhkan apa saja yang dimilikinya di dapur.

"Oalah, lha aku ki deg-degan, kaget kok nopo aku ki digoleki wong ra kenal. (Saya kaget kok kenapa saya dicari orang tidak kenal),” ucap simbah, Sabtu (06/01/2018).

Terlihat masih segar bugar, ternyata usianya sudah begitu tua, sebanyak kenangan-kenangan yang ia miliki. 

"Walah...umurku ki wes 100 punjul, 130 tahun. (Umur saya sudah 100 lebih, 130 tahun)" tutur simbah yang tinggal di Padukuahn Kasihan RT 02, Desa Balong, Kecamatan Girisubo itu.

Meski berusia lebih dari seabad, namun tak mempengaruhi kondisi fisik Mbah Ngadikem. Pendengaran, penglihatan dan caranya berjalannya pun tampak masih normal.

"Umur 16 tahun aku ki wes rabi, tapi mung 4 sasi tok wong aku ra seneng. Rabi mergo dijodoke. (Umur 16 saya sudah menikah, tapi cuma 4 bulan saja karena saya tidak cinta. Nikah karena dijodohkan)," terang simbah yang telah memiliki 22 cucu dan 58 cicit di berbagai kota itu.

Pernikahan pertamanya tidak menghasilkan keturunan, kemudian ia menikah dengan Mbah Karyo dan memiliki 10 anak.

Suaminya, Mbah Karyo, sudah mendahuluinya kurang lebih 25 tahun silam. Begitu pula dengan anak-anaknya yang lebih dulu meninggalkannya.

"Anakku ono 10, tapi seng wes raono 5. Saiki kari lanang 2 wedok 3. (anak saya ada 10, tapi yang sudah meninggal 5. Sekarang tinggal laki-laki 2 perempuan 3)," bebernya.

Sembari menyeruput air putih panas yang diberi gula batu, ia bercerita kalau sudah 2 tahun diketahui dia memiliki penyakit jantung. Karena permintaan anaknya dan juga usianya yang renta, kini Mbah Ngadikem sudah tidak lagi beraktifitas ke ladang. Sejak masih muda, pekerjaan Mbah Ngadikem memang hanya bertani.

Dengan usia yang lebih dari seabad, tentu dirinya mengingat sedikit kejadian di masa silam.

"Biyen jaman Nipon (penjajahan Jepang) neng kene we aku wes rondo, nanging jeh enom aku. Ora wani metu seko omah, raentuk. Wong jarene yen metu seko omah mengko dibedhil. (Dulu zaman Nipon di sini saya sudah janda, tapi masih muda. Tidak berani keluar dari rumah, nggak boleh. Katanya kalau keluar rumah nanti ditembak)," imbuhnya.

Mungkin saja Mbah Ngadikem saat ini merupakan manusia tertua yang tersisa di Kabupaten Gunungkidul. Tampak luar simbah terlihat seperti usia 80 tahun. Banyak yang tidak percaya jika usianya sudah 130 tahun. Sejak muda ia pun memang hobi nginang untuk menjaga giginya agar tetap sehat dan utuh.

Tak banyak yang diutarakan simbah soal menu makanan. Ia suka makan sayur sejak masih muda. Ia pun bersyukur karena masih diberi umur panjang dan kesehatan oleh Tuhan. (Turi)