Digerogoti Kanker Ganas, Mantan Tukang Jahit Butuh Uluran Tangan
Sosial

Digerogoti Kanker Ganas, Mantan Tukang Jahit Butuh Uluran Tangan

Semanu, (gunungkidul.sorot.co)--Sungguh malang yang dialami Suparmo (55). Pasalnya dua tahun belakangan ini ia menderita kanker ganas di bagian leher dan sudah memasuki stadium empat.

Benjolan di leher kirinya yang semula hanya sebesar bakso itu terus membesar hingga mendesak ke bagian telinganya. Kemoterapi yang ia jalani secara rutin selama 1 tahun di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta harus terhenti saat ia diharuskan melakukan sinar di Rumah Sakit Semarang.

"Benjolan ini memang sempat mengecil, tepat bulan Januari 2017 kemarin saya harus menjalani sinar di Semarang selama 1,5 bulan. Namun karena terkendala biaya, terpaksa saya urungkan," kata Suparmo, warga Nitikan Timur Rt 06/11, Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Minggu (07/01/2018).

Benjolan yang berada di lehernya itu terus membesar bahkan mendesak di bagian telinganya, sehingga pendengarannya pun sedikit berkurang. Setiap 1 jam sekali ia merintih kesakitan karena rasa nyeri yang dirasa sampai bagian tubuh lain. 

Menurutnya, penyakit kanker leher yang ia derita itu sudah menjalar hingga ke syaraf menuju otak. Jadi untuk operasi, pihak medis pun juga tidak berani melakukannya. Pengobatan jalan satu-satunya hanya melalui kemo dan sinar.

Meski biaya pengobatan ditanggung BPJS, namun biaya lain-lain pun membengkak. Bahkan selama 1 tahun lalu ia yang bolak-balik ke rumah sakit hingga sekarang masih memiliki tanggungan hutang di beberapa tetangga yang ia mintai tolong.

"Masih ada tanggungan kekurangan sewa mobil sudah hampir 1 tahun belum saya bayar, sebesar 1 juta dan biaya lainnya," terang dia sembari sesekali merintih kesakitan.

Karena kondisi benjolan yang semakin membesar dan di leher bagian kanan juga tumbuh benjolan, ia pun kembali mendaftarkan untuk melakukan sinar di Rumah Sakit Sardjito. Rencananya ia tanggal 11 Januari ini akan menjalani sinar selama 1,5 bulan lamanya.

Lagi-lagi terkendala biaya. Meski tinggal menghitung hari, namun untuk biaya hidup selama 1,5 bulan di rumah sakit ia masih bingung belum mendapatkan uang. Tentunya biaya wira-wiri di sana juga akan membengkak.

"Semangat saya ingin sembuh sebenarnya kuat. Tapi semua selalu terkendala biaya. Sebelum sakit saya hanya tukang jahit dan membantu ngurusi cucian mobil milik tetangga. Penghasilnya hanya cukup untuk makan," tambah dia.

Karena penyakit yang terus menggerogoti dirinya, berat badannya turun drastis. Dulu Suparmo tinggi gemuk, sekarang sangat kurus. Bahkan saat ini kulit keriput dan tulang-tulangnya terlihat. Selain menderita kanker, ternyata ia juga menderita ambeyen yang cukup parah.

"Cairan terus keluar, jadi saya pake pampers. Kalau beberapa waktu lalu darah yang keluar. Kalau ambeyen dan ngilu di leher kambuh barengan, sakitnya luar biasa. Kadang saya sempat merasa putus asa," imbuh dia.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari, bapak 3 anak ini hanya bergantung pada penghasilan anak terakhirnya dan bantuan dari tetangga.