Petani Masih Andalkan Tletong dan Air Kencing Sapi
Ekonomi

Petani Masih Andalkan Tletong dan Air Kencing Sapi

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Petani di Kabupaten Gunungkidul masih mengandalkan kotoran sapi atau tletong dan air kencing sapi. Hal itu dilakukan demi mengoptimalkan hasil pertanian mereka.

Di Padukuhan Karanggumuk II, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari misalnya, warga masih sering menggunakan kedua jenis pupuk organik itu. Menurut Sarnodi, Ketua Kelompok Ternak Ngudi Sari setempat, selain mudah diperoleh, jenis pupuk itu juga bagus untuk aneka tanaman pertanian.

Anggota kelompok kita ada 34 petani, semua masih pakai itu,” kata Sarnodi, Minggu (07/01/2018).

Selain memproduksi kotoran sapi secara pribadi, kelompok juga membuat pupuk kandang dari optimalisasi 10 ekor sapi bantuan pemerintah. Dari 10 sapi itu setiap hari kurang lebih menghasilkan 30 kg kotoran sapi dan lebih dari 15 liter air kencing. 

Kata Sarnodi, proses pengolahan pupuk organik dari kotoran sapi paling tidak membutuhkan waktu selama 2 bulan.

"Jadi kotorannya yang sudah diberi obat EM4 dan tetes tebu, terus didiamkan 2 bulan. Setelah itu barulah digiling pakai mesin," terangnya.

Sementara itu menurut Darto Suratno, petani warga Surubendo, Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, pupuk organik dari sapi peliharaan sampai sekarang menjadi menjadi andalan sebagian besar petani setempat.

Selain hemat biaya, pemanfaatan pupuk kandang juga dirasa efektif untuk menyuburkan lahan pertanian. Dengan begitu petani akan lebih diuntungkan lantaran ongkos pengolahan lahan menjadi lebih ringan.

Pupuk kandang itu ditebar saat mengolah tanah sebelum ditanami. Perbandingannya tletong 1 rit mobil truk engkel dengan 2 zak pupuk kimia kemasan 50 Kg,” bebernya.

Pada dasarnya petani memang tidak bisa lepas dari pemanfaatan pupuk kimia. Hal itu salah satunya dipengaruhi adanya faktor kemareman sejak zaman dulu.

Setahu saya nggak ada yang berani kalau tidak pakai pupuk kimia. Alasannya ya hasil panen takut kurang maksimal,” pungkas Darto. (Turi)