Menelisik Kasus Gantung Diri dan Cara Ampuh Mengatasinya
Sosial

Menelisik Kasus Gantung Diri dan Cara Ampuh Mengatasinya

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Fenomena gantung diri yang dilatarbelakangi oleh penyakit mendominasi kejadian pada tahun 2017 kemarin. Ada sedikitnya 30 orang melakukan gantung diri pada 2017, dengan 4 orang melakukan percobaan bunuh diri.

Jumlah gantung diri pada 2017 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pada 2016, ada 28 orang melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri, berdasarkan catatan kepolisian. Menurut Psikiater RSUD Wonosari, Ida Rochmawati, bunuh diri bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Banyak aspek yang menyebabkan orang melakukan bunuh diri.

Ada yang kita sebut faktor resiko. Pada dasarnya semua orang punya faktor resiko. Hanya saja faktor resiko menurut studi literatur, 80 % karena gangguan perasaan yaitu depresi. Depresi itu sedih tur banget, apapun penyebabnya. Apa itu faktor sosial, ekonomi, penyakit dan sebagainya,” ujar wanita yang juga Anggota Satgas Berani Hidup Pemkab Gunungkidul kepada sorot.co, Selasa (09/01/2018).

Selain gangguan perasaan dan depresi, faktor resiko bunuh diri 5 % diantaranya karena gangguan jiwa berat atau schizophrenia. Orang yang mengalami ini tidak bisa menilai realita, serta membedakan nyata atau tidak. Sementara selebihnya karena dimensial atau kepikunan dan penyalahgunaan zat ataupun alkohol. 

Logikanya kalau faktor resiko ditangani, maka orang tidak akan melakukan bunuh diri. Itu dari biologis. Kedua ada aspek psikologi. Ada orang-orang tertentu secara kepribadian mudah mengalami depresi atau stres. Mereka yaitu yang punya kepribadian tertutup, sensitif atau bahasa medis schizoid,” terang Ida.

Disamping aspek biologis dan psikologis, ada pula aspek sosial budaya. Dalam aspek ini ada yang disebut teori modeling. Beberapa orang yang melakukan bunuh diri pada awalnya didorong oleh cerita serta informasi yang banyak berkembang di masyarakat.

Ada yang dicontohkan, ada yang ditiru. Nah sehingga kemudian tanpa kita sadari masyarakat mengalami sensitisasi menjadi terbiasa, ditambahi bumbu mitos. Sebenarnya bukan karena sakit tidak sembuh lalu gantung diri, pulung gantung, putus cinta. Bunuh diri itu multifaktor. Tapi yang bisa kita catet tak ada seorang pun yang ingin mati bunuh dirim,” ulasnya.

Namun begitu, Ida memberikan kiat serta cara ampuh yang bisa dilakukan masyarakat dalam mendeteksi persoalan bunuh diri yang ada di sekitarnya. Caranya yakni dengan metode Lihat, Dengar dan Hubungkan.

Lihat lingkungan sekitar kita. Dengar, cari informasi kenapa itu terjadi? Lalu hubungkan. Kemana? Ya ke tenaga medis,” ungkapnya.

Kita perlu menyadarkan kepada masyarakat, bunuh diri itu bukan selalu dikaitkan dengan pulung gantung. Kalau orang mau mengkaitkan dengan pulung gantung ya itu kepercayaan, tapi bukan itu permasalahnnya, ada faktor lain,” pungkasnya.