Tiga Puluh Tahun Mbah Waluyo Setia Berteman Gerabah
Ekonomi

Tiga Puluh Tahun Mbah Waluyo Setia Berteman Gerabah

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Usai membuka kiosnya masih pagi sekitar pukul 08.00 WIB Waluyo menanti pembeli. Ia berharap sampai sore dia menutup kios akan ada orang yang mampir untuk membeli cowek, produk dari tanah liat yang paling laku di kiosnya.

Waluyo sudah berjualan gerabah kurang lebih 30 tahun. Namun baru sekitar 12 tahun dia menetap berjualan di Pasar Besole, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Alasannya karena faktor usia, dia tak setangguh dulu untuk berjualan gerabah keliling.

Lelaki pendiam itu berjualan gerabah karena memang turunan dari orang tuanya. Hingga sekarang pun dari tiga anaknya, ada satu yang meneruskan usahanya berjualan gerabah.

Disela kesibukannya, simbah 61 tahun itu menuturkan, pembeli gerabah tidak sebanyak dulu. Setidaknya sudah 15 tahun penjualannya menurun dari tahun ke tahun.

"Tiap hari ada orang beli, tapi ya cuma 2 - 3 orang," ujarnya, Rabu (10/01/2018).

Keuntungan dari menjual gerabah tidak seberapa, terlebih lagi sekarang penjualannya menurun.

"Keuntungan mulai Rp 1.000, ada yang Rp 20.000 yang hiasan air mancur itu. Tapi kan tidak tahu lakunya kapan, nggak mesti," katanya.

Harga gerabah pun berbeda-beda, tergantung dari jenis dan ukurannya. Untuk cowek mulai Rp 3.000, kendi mulai Rp 10.000, anglo mulai Rp 10.000, air mancur Rp 75.000.

"Harga gerabah ya sekitaran segitu. Kren, kuali, vas bunga, wajan hampir sama dengan yang lain. Perbandingannya Rp 3.000-an. Beda ukuran ya beda harga, naiknya juga sama sekitar Rp 3.000-an," sambungnya.

Turun temurun dan 30 tahun berjualan gerabah tak ingin membuat Waluyo ingin memproduksi gerabah sendiri. Alasannya adalah karena tanah di Kabupaten Gunungkidul tidak bisa digunakan untuk membuat gerabah.

"Tanah di sini kan nggak bisa dibuat gerabah, mesti mlethek-mlethek (pecah-pecah). Jadi ini pesen dari Klaten, Temanggung, Bantul dan Jogja," terang dia.

Pria yang tinggal di Padukuhan Gadungari, Desa Gadungsari, Kecamatan Wonosari itu mengharapkan masyarakat tak meninggalkan barang tradisional seperti gerabah.

"Sekarang kalah sama yang modern, lebih awet. Karena barang gerabah ini kan ringkih, mudah pecah. Beberapa masih suka pakai gerabah karena terbiasa dan rasanya juga berbeda, seperti teko," tuturnya. (Turi)