Inovasi, Kunci Produk Kelapa Siti Tetap Jaya Hingga Jakarta
Ekonomi

Inovasi, Kunci Produk Kelapa Siti Tetap Jaya Hingga Jakarta

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Masyarakat luas pastinya sudah mengenal camilan gula kelapa. Jika di Gunungkidul, salah satu produknya berasal dari Padukuhan Gedad, Desa Banyusoca, Kecamatan Playen. Di situ, produk berbahan dasar kelapa memang sudah ada sejak jaman leluhur. Selain proses produksinya mudah, bahan dasar kelapa pun banyak dijumpai di wilayah Gedad.

Jaman modern, inovasi begitu diperlukan bagi setiap pelaku usaha. Meski produk gula kelapa di Gedad sudah ada sejak puluhan tahun silam, untuk berkembang diperlukan terobosan baru. Ituah yang selalu menjadi fokus Siti Toyibah, salah satu pengusaha gula kelapa di Gedad.

Kita kembangkan produk gula kelapa agar bisa bersaing di dunia bisnis sekarang. Butuh perubahan tanpa meninggalkan produk khas Gedad,” kata Siti di rumah produksinya, Sabtu (13/01/2018).

Pemikiran Siti ini dimulai pada tahun 2012 lalu. Usahanya kala itu hanya mampu meraup omzet rata-rata, sehingga tujuan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi warga tetangga harus tertunda. Ia pun lantas memutar otak dengan menggali ilmu pengembangan usaha di media apapun. Entah internet, belajar ke pakar usaha ataupun membeli buku usaha. 

Sejak saat itu, ia menjadi tahu jika kunci usaha ialah inovasi. Disebutnya, perubahan besar-besaran di tahun 2012 itu membuatnya sumringah. Selain omzet bertambah, Siti bisa mengajak tetangga untuk ikut bekerja. Tentunya, dengan upah selayaknya dari hasil pengembangan produk berbahan dasar kelapa.

Produknya tidak hanya gula kelapa, tetapi ada Camud (camilan kelapa muda), Ingah Ingih, minuman serbuk jahe dan minuman serbuk gula kunir. Hasilnya sekarang lumayan,” jelasnya.

Beberapa produk Siti itu tidak hanya dipasarkan di wilayah Gunungkidul dan lingkup DIY saja. Ia tak jarang mengirim barang hingga ke Jakarta. Kualitas produk yang terjaga membuatnya digandrungi pelanggan.

Ibu dua anak ini mengharapkan produk berbahan dasar kelapa miliknya bisa menjadi salah satu produk khas Gunungkidul. Sehingga pengunjung yang dating ke Gunungkidul selalu mengingat camilan dan minuman serbuknya.

Dalam proses produksinya, Siti lebih percaya tenaga manusia ketimbang menggunakan alat bantu mesin. Dalam sebulan, Siti Thoyibah mampu menghasilkan omset Rp 7 juta. Kendala yang harus dihadapi Siti dalam produksinya masih terkait cuaca. Jika hujan turun, produksinya harus tertunda karena tidak bisa menjemur bahan dasar kelapa. (Turi)