Banyak Tanah Jemblong, BPBD Bakal Koordinasi dengan Bidang Geologi
Pemerintahan

Banyak Tanah Jemblong, BPBD Bakal Koordinasi dengan Bidang Geologi

Wonosari,(gunungkidul.sorot,co)--Banyaknya tanah jemblong di Gunungkidul yang terjadi pasca siklon Cempaka pada akhir November 2017 membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera mengambil tindakan. Pasalnya tanah jemblong sebanyak 11 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan itu terus melebar dan mengancam masyarakat.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Gunungkidul, Handoko mengatakan, meski tanah ambles atau jemblong merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di wilayah karst, namun untuk beberapa tahun belakangan ini, fenomena ini termasuk yang paling besar.

"Kalau tanah jemblong itu memang biasa. Tahun 2017 ya terbilang besar karena banyak titik, ini akibat dari siklon Cempaka. Kalau biasanya kan aman-aman saja. Beberapa tahun lalu sempat ada di Rongkop kami lakukan pengurukan 11 rit batuan karena tanah ambles mengancam rumah warga," terang Handoko, Kamis (08/02/2018).

Menurut dia, tindakan antisipasi yang dilakukan oleh para pemilik lahan yakni untuk sementara waktu harus membuat bendungan agar air tidak masuk ke lubang dan membuat semakin lebar serta dalam. Selain itu, upaya untuk menimbun lubang dengan jerami, bonggol pisang dan tumbuhan itu juga dianggap efektif, ramah lingkungan. 

Sementara itu, Kepala BPBD Gunungkidul, Edy Basuki menuturkan, setelah dilakukan pengecekan di beberapa lokasi, pihaknya masih belum bisa menyimpulkan mengenai tindakan yang sangat tepat yang harus dilakukan warga maupun pemerintah. Rata-rata tanah ambles mulai kedalaman 5 meter bahkan hingga lebih dari 20 meter.

Dari BPBD sendiri secepatnya akan melakukan pengkajian tanah jemblong tersebut bersama dengan bidang kajian teknis geologi baik dari UGM maupun pihak terkait lainnya. Tujuannya agar warga maupun pemerintah dapat dengan cepat melakukan tindakan pada tanah ambles. Lahan yang dilokalisir pun tentunya bertambah, karena jika tidak fenomena itu akan membahayakan warga.

"Dua meter dari bibir lubang itu dianggap paling aman, meski di lokasi sudah dipasang police line," ucap Edy Basuki.

"Tindakan yang akan kami ambil ini sangat mendesak sekali. Hal itu mengingat tanah jemblong berada di lahan pertanian, sehingga merugikan para petani padahal sekarang musim panen," imbuhnya