Warga Tak Merasakan Danais, Mahfud M.D : Anggapan Itu Sering Terdengar
Pemerintahan

Warga Tak Merasakan Danais, Mahfud M.D : Anggapan Itu Sering Terdengar

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Penggunaan Dana Keistimewaan di Kabupaten Gunungkidul dianggap tidak sampai ke desa-desa dan dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu sejumlah kendala pun juga dihadapi pemerintah daerah dalam penggunaan dana tersebut.

Berbagai masalah dan kendala yang dihadapi pemerintah daerah maupun keluhan masyarakat itu diutarakan pada Ketua Parampara Praja DIY, Prof. Dr. Mahfud M.D saat berkunjung ke Gunungkidul, Jumat (09/02) kemarin. Kedatangan rombongan tersebut bukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, akan tetapi untuk menganalisa terlebih dahulu dengan jajarannya.

Mahfud M.D mengatakan, penggunaan Danais di Gunungkidul maupun di DIY tergolong bagus dan sudah maksimal. Penyerapan dan pertanggung jawaban sudah sesuaai prosedur. Permasalahan klasik yang terus dihadapi yakni masyarakat masih sering beranggapan bila tidak merasakan Danais.

"Anggapan itu sering terdengar, padahal kan penggunaan dan manfaat Danais tidak bisa instan, tetapi bersifat struktural," kata Mahfud MD.

Tak hanya itu saja, permasalahan mengenai masyarakat yang masih banyak melakukan jual beli tanah SG dan dan tidak mengakui status tanah tersebut masih sering ditemukan di Gunungkidul. Maka dari itu pihaknya berharap pemerintah daerah sendiri terus melakukan komunikasi yang intens agar tidak terjadi kesalahan dan permasalahan semacam itu terulang kembali. 

"Intoleransi dan toleransi masih sering ditemui ternyata di sini. Pokoknya segala permasalahan sudah kami tampung, mudah-mudahan Sultan dan kami dapat segera mencarikan solusi yang tepat," tambah dia.

Sebagai informasi, tahun 2017 Kabupaten Gunungkidul mendapat alokasi Danais sebesar 36 miliar, tetapi karena ada Pagu perubahan maka hanya mendapat dana sebesar 26 miliar saja. Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan 3 bidang yakni pariwisata, kebudayaan dan pertanahan tata ruang. Meski ada pemangkasan dana, akan tetapi program penuntasan kemiskinan tergolong berhasil, dari 19,34% kemiskinan turun menjadi 18,65%.