Mengenal Sosok Tupar Sang Seniman Buruh Ukir Batu
Ekonomi

Mengenal Sosok Tupar Sang Seniman Buruh Ukir Batu

Semanu,(gunungkidul.sorot.co)--Lelaki berpakaian kumal itu tengah sibuk menggergaji batu putih untuk bahan kerajinan relief. Sembari sesekali mengusap keringat bercucuran, ia pun tampak semangat berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.

Ialah Tupar (41), warga Padukuhan Mojo, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu. Sebagai seorang seniman buruh, ia rela berkotor-kotor ria demi membuat sebuah karya seni bernilai tinggi.

Lelaki itu begitu terampil dalam membuat berbagai macam kerajinan berbahan dasar batu palimanan putih dan paras. Rupanya ia tak hanya kerja setahun dua tahun, namun belasan tahun ia bergelut menjadi seorang seniman ukir batu.

Dengan berbekal keterampilannya, Tupar begitu cekatan dan terampil dalam menggunakan alat untuk menggergaji batu hingga memahatnya. Ia pun telah membuat berbagai macam kerajinan batu yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

Saya sudah 13 tahun kerja jadi tukang ukir batu di sini. Ukiran saya kerjakan secara manual sesuai dengan permintaan pelanggan,” kata Tupar di bengkel seni Mustika Alam Desa Ngeposari, Selasa (13/02/2018) siang.

Pesanan yang begitu banyak membuatnya semakin bersemangat dalam melakoni rutinitas pekerjaannya. Harapannya ia dapat menghasilkan banyak uang untuk kehidupan sehari hari dengan upah Rp 40.000 – 50.000/hari. Namun apabila pesanan banyak, ia bisa meraup penghasilan lebih dari satu juta dalam sebulan. 

Untuk membuat relief satu muka, saya butuh waktu 2-3 hari karena pengerjaannya manual tanpa mesin. Beda kalau pengerjaan untuk model lampu, itu hanya butuh waktu 1 sampai 1,5 hari,” beber Tupar.

Adapun bahan baku batu para perajin biasanya memperoleh dari berbagai lokasi seperti Semin, Ponjong, Karangtengah Wonosari dan Sleman, Yogyakarta. Sementara itu untuk pesanan yang banyak adalah batu ukiran lampu dan relief.

Batu relief pakai paras Jogja harga jualnya sekitar 800 – 850.000 /m3 bila ukiran hanya satu muka. Sedangkan untuk batu relief dua muka pasarannya sampai diatas 1 juta/m3,” terang Tupar.

Berbeda dari Tupar, Rohman (35), warga Keblak, Desa Ngeposari kini lebih memilih usaha secara mandiri untuk memperbaiki nasib. Kendati harus menanggung hutang untuk modal senilai banyak juta, ia optimis usahanya bisa bertahan dan berkembang meskipun pelan.

Rohman sendiri sering mendapat pesanan relief dan patung ke berbagai kota. Harganya pun bervariasi, mulai dari termurah Rp 70 ribu hingga termahal mencapai jutaan rupiah.

Dulu awalnya saya juga ikut orang, sekitar 12 tahun. Dua tahun ini saya niat mandiri. Alhamdulillah sekarang bisa dapet Rp 15 juta sebulan, tapi itu kotor,” ujar pemilik usaha Watu Jogja itu.

Ia mengakui bahwa sudah sekitar empat tahun belakangan ini, para perajin batu di Desa Ngeposari kurang mendapat perhatian pemerintah.

Total sini ada ratusan perajin batu. Ya kalau dulu sih pernah ada pelatihan dan penyuluhan gitu dari pemerintah. Nggak tahu sudah bertahun-tahun nggak ada lagi,” ujar lelaki berambut gondrong itu. (Wulan)