Sembelih Ribuan Ayam dan Ratusan Kambing Demi Meriahnya Wilujeng Madilakiran
Budaya

Sembelih Ribuan Ayam dan Ratusan Kambing Demi Meriahnya Wilujeng Madilakiran

Karangmojo,(gunungkidul.sorot.co)--Salah satu makam petilasan yang disakralkan dan dipercaya memiliki kekuatan magis religius di Kabupaten Gunungkidul adalah makam Ki Ageng Wonokusumo. Terletak di Padukuhan Wonontoro, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, petilasan tersebut selalu ramai dikunjungi masyarakat, baik dari kalangan biasa hingga kalangan pejabat.

Di tempat itu setiap tanggal perhitungan Jawa hari Senin atau Kamis antara tanggal 20 - 25 Jumadilakir selalu diadakan tradisi upacara untuk mengenang dan memperingati meninggalnya Ki Ageng Wonokusumo.

Tradisi upacara itu dinamakan Wilujeng Madilakiran. Upacara adat Wilujengan Madilakiran selalu diadakan setiap tahun sekali oleh warga tiga padukuhan yakni Wonontoro, Warung, dan Banjardowo.

Seperti pada Senin (12/03/2018), warga menggelar acara kenduri dan nyekar di makam Ki Ageng Wonokusumo. Sebelum acara kenduri dilaksanakan, pertama ada iringan dari pasukan bregodo sebagai palang pintu dari warga yang membawa sego wudhuk (nasi), ingkung ayam, dan tumpeng. Ketiganya dibawa warga kemudian dikumpulkan di Balai Sri Penganti yang berada di bawah petilasan Ki Ageng Wonokusumo.

Wastaya, Ketua Panitia Tradisi Adat Wilujeng Madilakiran menjelaskan, tradisi madilakiran adalah sebagai upaya untuk mengenang jasa Ki Ageng Wonokusumo. Kegiatan itu juga dilakukan untuk memohon keselamatan masyarakat sekitar maupun masyarakat umum.

Selain warga lokal, tampak pula warga dari luar Gunungkidul seperti Klaten, Magelang, Semarang, Jakarta, Surabaya, bahkan dari Sumatera juga ikut memeriahkan acara.

Dihadiri oleh Dinas Pariwisata, Camat Karangmojo, Kades Jatiayu, maupun Kades Gedangrejo, dan masyarakat, acara madilakiran berlangsung khidmat. Dalam tradisi upacara madilakiran tersebut sebanyak 200 ingkung disajikan untuk acara kenduri dan didoakan, kemudian dibagi kepada warga yang datang.

"Dari tanggal 1 Jumadilakir sampai hari ini sudah lebih dari 3.500 ayam jago yang disembelih oleh warga. Selain itu jug ada sekitar 150 ekor kambing disembelih. Untuk sapinya 1 ekor," terang Wastaya.

Diceritakan, Ki Ageng Wonokusumo sendiri adalah putra dari Ki Ageng Wonokusumo, penghulu di Serang, yang masih keturunan dari Majapahit. Pada masa akhir Kerajaan Majapahit, Ki Ageng Wonokusumo kemudian mengembara ke Bayat, Klaten. 

Sesampainya di Bayat beliau berguru kepada Sunan Padanaran. Oleh Sunan Pandanaran, Ki Ageng Wonokusumo diperintahkan agar mencari tanah yang baunya harum seperti tanah yang ada di Bayat. Kemudian dia diperintahkan untuk mencari tanah yang harum daerah Gunungkidul.

Perjalanan Ki Ageng Wonokusumo ke Gunungkidul akhirnya berhasil. Tanah yang harum tersebut ditemukan di kawasan hutan Wonontoro yang sekarang ini bernama menjadi Padukuhan Wonontoro.

Meninggal sekitar 400 tahun yang lalu, Ki Ageng Wonokusumo memberikan peninggalan di Padukuhan Wonontoro antara lain ialah air sendhang pancuran yang hingga saat ini dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. (Wulan)