Siswi SLB Hamil, Pengawasan Sekolah Dituding Lemah
Pendidikan

Siswi SLB Hamil, Pengawasan Sekolah Dituding Lemah

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Sebagai penanggungjawab di lembaga pendidikan, entah pendidikan formal maupun non formal, harus bisa melakukan pengawasan secara penuh dan intensif terhadap siswa didiknya. Hal ini hukumnya wajib dilakukan, karena sekolah selain dijadikan jujugan tempat belajar dan menimba ilmu, sekaligus merupakan rumah kedua bagi siswa.

Jika dalam pengawasannya lengah sedikit saja bisa berakibat fatal terhadap siswa di lingkungan sekolah. Seperti halnya telah diberitakan sorot.co pada Jumat (30/03) lalu bahwa di Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Kecamatan Panggang ada seorang siswi penyandang difabel berinisial D (17) diketahui hamil dengan usia kehamilan sekitar 2 bulan. Mirisnya, terduga pelakunya adalah teman sekolah di SLB setempat.

Kejadian tersebut terbongkar ketika D pulang ke rumah dan bercerita kepada keluarganya. Karena selama ini D tinggal di asrama SLB, di akhir pekan baru bisa menyambangi keluarganya. Dalam hal ini pihak SLB menolak keras memberikan klarifikasi terkait pengawasan dan kronologi kasus tersebut.

Merujuk kasus tersebut, seorang aktivis peduli pendidikan dan anak, Retnoningsih mengungkapkan, penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah perlu adanya standar-standar yang harus dipenuhi. Selain itu diperlukan intervensi yang bijak dari pemerintah dan penyelenggara pendidikan itu sendiri.

"Misalnya adanya standardisasi, pengawasan, pembinaan, bantuan, evaluasi dan advokasi. Dalam hal ini dewan pendidikan beserta perangkatnya juga berkewajiban memberikan solusi," tegas Retno, Selasa (04/03/2018).

Menurut dia, selain mengupayakan solusi sebagai bahan evaluasi, pemerintah harus benar-benar memastikan pengawasan. Tujuan utamanya agar kejadian serupa tidak terulang kembali, apalagi berada dalam lingkungan sekolah. (widi)