Buntut Siswi SLB Hamil, Tiga Siswa Dikeluarkan Sepihak
Hukum & Kriminal

Buntut Siswi SLB Hamil, Tiga Siswa Dikeluarkan Sepihak

Panggang,(gunungkidul.sorot.co)--Meski diklaim sudah selesai oleh pihak sekolah, namun kasus siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Panggang yang hamil tanpaknya berbuntut panjang. Sejumlah siswa yang diduga terlibat dalam kasus asusila itu langsung dikeluarkan oleh pihak sekolah tanpa ada koordinasi dengan pihak orang tua.

Adalah R (16), D (17), dan K (16), tiga orang siswa SLB yang dikeluarkan oleh pihak sekolah secara sepihak itu.

S, ibu dari R membeberkan bahwa awalnya sebelum kasus tersebut mencuat pada bulan Februari 2018, anaknya diskors oleh pihak sekolah selama tiga minggu. Hal itu karena dari pihak sekolah menilai R sering berbuat tidak wajar terhadap teman satu sekolah. Misalnya dengan menyerobot jilbab teman perempuan, mengambil buku atau jepitan rambut dan meminjam uang sebesar 10 ribu terhadap temannya yang kemudian tidak dikembalikan.

Setelah masa skorsing selesai, R kembali masuk sekolah selama 1 minggu. Akan tetapi setelah itu keluarga R justru mendapat surat pengeluaran R dari sekolah karena dituding terlibat menghamili D.

S mengaku kaget lantaran dikeluarkannya R dari sekolah pun tidak ada koordinasi dengan pihak keluarga. Padahal itu belum tentu R yang menghamili, meski anaknya mengakui jika pernah berbuat dengan D, siswi SLB yang kini berbadan dua.

Waktu skorsing dari pihak sekolah sudah tahu mengenai permasalahan itu, tapi saya selaku orang tua tidak dikasih kabar mengenai permasahan kehamilan D,” kata S kesal, Selasa (03/04/2018).

Karena merasa tidak terima dengan surat pengeluaran tersebut, S langsung mendatangi sekolah untuk meminta kejelasan. Kala itu ia malah disudutkan oleh pihak sekolah, dengan meminta anaknya untuk bertanggung jawab mengenai kehamilan D. 

Padahal diketahui, lanjut S, aksi perbuatan asusila yang terjadi di lingkungan asrama SLB itu pun tidak hanya dilakukan oleh R saja. Melainkan ada beberapa teman laki-laki yang juga ikut menggagahi D.

Memang ada beberapa laki-laki yang menggagahi D saat itu. Kejadiannya siang hari di asrama, saat siswa-siswa sudah pulang. Tidak hanya satu kali, tapi memang sudah beberapa kali juga. Ada beberapa anak yang terlibat, tapi anehnya sejak awal malah anak saya yang diminta tanggung jawab,” terang S.

Sejak awal permasalahan ini muncul, anaknya selalu dipojokkan karena dianggap paling sering berbuat dengan D. Sedangkan pelaku lainnya seakan ditutup-tutupi oleh pihak sekolah.

Ya anak saya nggak mau tanggung jawab, soalnya juga tahu kalau perbuatan itu tidak hanya ia lakukan sendiri, tapi dengan beberapa orang,” tandasnya.