Angkutan Umum Redup Karena Perkembangan Zaman
Ekonomi

Angkutan Umum Redup Karena Perkembangan Zaman

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Redupnya angkutan umum dan angkudes di Indonesia terjadi hampir menyeluruh di masing-masing daerah perkotaan bahkan pedesaan. Di Kabupaten Gunungkidul pun eksistensi angkot dan angkudes belakangan ini juga terlihat redup bahkan menurun drastis.

Kondisi semacam itu telah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Hal itu disinyalir karena pesatnya pertumbuhan kendaraan pribadi yang kian mengalami peningkatan.

Dimana pada masa kejayaan, untuk mencari penumpang pun sangat mudah. Angkutan mampu bolak-balik beberapa kali dengan membawa penumpang yang begitu penuh. Namun di era perkembangan transportasi yang kian pesat ini, ibaratnya untuk mendapat 10 penumpang saja begitu sulit.

"Pola pikir mengenai kendaraan menjadi tolak ukur kekayaan dan pandangan fleksiblitas, serta daya saing yang kuat lah yang mendorong redupnya pengguna angkutan di Gunungkidul," kata Syarief Armunanto, Kepala Dinas Perhubungan Gunungkidul, Jumat (11/05/2018).

Biaya operasional yang tinggi dan tidak sesuai dengan pemasukan pun juga membuat para pengusaha jasa angkot dan angkudes harus berpikir lagi, jika akan menjalankan angkutan. 

Sejumlah terobosan dan tawaran mengenai ide-ide pengoptimalan angkot dan angkudes telah dipikirkan oleh pihak Dinas Perhubungan. Namun pada faktanya, tawaran-tawaran itu pun hingga saat ini belum mendapat tanggapan dari berbagai pihak, terlebih pelaku usaha dan masyarakat.

"Peremajaan angkot dan pembukaan trayek baru sudah pernah kami tawarkan. Namun di lapangan justru belum ada tanggapan sampai sekarang. Sebenarnya kita juga dilemma. Di satu sisi ingin menghidupkan kembali, namun sisi lain kita juga harus mengkaji butuh atau tidaknya harus ada masukan dari masyarakat baru kami upayakan," imbuh dia.

Sementara itu Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul, Ikrar Subarno menjelaskan, di Gunungkidul terdapat 40 angkot namun yang efektif hanya 16 unit. Itupun tidak setiap hari melakukan aktifitas penarikan.

Sedangkan untuk angkudes ada 325 unit, namun hanya ada 250 unit yang aktif dan tidak secara keseluruhan setiap hari melakukan kegiatan.

"Hanya sebagian kecil saja yang efektif. Itu pun juga kadang ada carteran, jadi tidak optimal penarikan di jalur yang ada. Memang kondisinya sekarang berbeda dibandingkan dengan tahun 1970-1990, dimana angkot saat itu sedang jaya-jayanya," kata Ikrar.