Buta Sejak Lahir,  Hidup Dua Lansia Bersaudara Andalkan Sang Adik
Sosial

Buta Sejak Lahir, Hidup Dua Lansia Bersaudara Andalkan Sang Adik

Panggang,(gunungkidul.sorot.co)--Kemiskinan masih menjadi masalah serius di dunia tak terkecuali Indonesia. Kisah menyentuh datang dari kakak beradik Ngadinem (77) dan Waginem (76) warga Padukuhan Waru, RT 05/RW 04, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang. Di usianya yang tidak muda lagi, keduanya hidup dengan kondisi kebutaan sejak lahir.

Beruntung, kedua lansia tersebut ada seorang adik yang mau merawat meski hidup dalam keterbatasan ekonomi. Adalah Parno Utomo (57) dan seorang istri Ngatiyem (68) yang dengan sabar merawat sang kakak puluhan tahun lamanya.

Parno setiap harinya bekerja banting tulang untuk menghidupi sang istri dan kedua kakaknya yang buta. Sejak kartu yang digunakannya untuk mengambil bantuan PKH hilang, ia tak pernah lagi mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah.

Ia mengaku pernah suatu kali melaporkan kehilangannya kepada kecamatan setempat. Namun hingga saat ini tak ada kejelasan yang dia terima atas hasil laporannya. Lantaran jarak rumahnya yang jauh dari keramaian dan sulit diakses kendaraan kecuali truk, ia memutuskan untuk berhenti mencari kejelasan tentang bantuan yang seharusnya ia dapatkan.

Parno merupakan keluarga satu-satunya yang dimiliki Ngadinem dan Waginem. Pasalnya, keduanya tak pernah menikah hingga usia sekarang. Saudaranya yang lain pun menetap di luar kota. Tak heran apabila selama 50 tahun Parno merawat kedua kakaknya itu.

Selain kebutaan, kakak saya kayaknya punya masalah sama organ reproduksinya karena nggak pernah haid. Mungkin karena kondisi itu yang membuat laki-laki enggan menjadikan mereka istri,” jelas Parno saat ditemui di rumahnya, Sabtu (12/04/2018).

Dulu sekali, Parno pernah mengajak kedua kakaknya untuk berobat. Namun, berbagai upaya yang dilakukan hasilnya nihil karena kecacatan pada matanya sudah terjadi sejak bawaan lahir. Kini jangankan untuk mandi dan buang air, untuk makan saja keduanya tidak bisa melakukan sendiri. Selain karena faktor kecacatan, usia yang semakin renta juga semakin membutuhkan bantuan untuk beraktifitas. 

Diusianya yang memasuki kepala 5, Parno berharap bisa merawat sang kakak hingga akhir hayatnya. Ia mengaku bahwa mereka lah yang menjadi semangatnya untuk mencari nafkah. Pasalnya, berprofesi sebagai petani membuat Parno cukup kewalahan menghidupi 3 anggota keluarganya, ditambah lagi kakak-kakaknya yang buta tersebut memiliki nafsu makan yang besar.

"Saya berharap bisa mendapatkan bantuan untuk kami gunakan merawat kakak. Kasihan mereka keduanya buta, kalau bukan kami yang merawatnya ya mau siapa lagi," harap Parno. (Sepdita)