Nenek Ini Pernah Ingin Bunuh Diri Karena Hidup Miskin
Sosial

Nenek Ini Pernah Ingin Bunuh Diri Karena Hidup Miskin

Rongkop,(gunungkidul.sorot.co)--Hidup sebatang kara selama puluhan tahun dalam kemiskinan, dialami oleh Musiyem (70) warga Padukuhan Barang Kulon, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop. Bahkan, bantuan dari pemerintah pun tak pernah sekalipun mampir kepadanya.

Padahal, jika dilihat dari kondisinya, rumah yang ditinggali Musiyem sangat tidak layak lantaran gubuknya yang reot dan berlubang. Untuk makan sehari-hari saja, ia dapatkan dari belas kasihan tetangga. Tubuh yang sudah renta membuatnya tak sanggup lagi untuk bekerja.

Tak heran dengan kondisinya yang seperti ini membuat Musiyem kerap depresi dan berniat bunuh diri. Namun niatan tersebut selalu saja diketahui dan dicegah oleh para tetangganya yang peduli.

Tidak hanya itu saja, puluhan tahun tinggal di Kecamatan Rongkop, namun nasibnya seakan tersingkir dari peradaban. Pasalnya, selama itu ia belum pernah mendapat kartu tanda penduduk (KTP) dan juga kartu keluarga (KK). Beruntung beberapa bulan yang lalu ada orang dermawan yang mau membuatkannya KTP dan juga KK secara ikhlas.

Musiyem sebenarnya memiliki keluarga di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun hubungannya dengan keluarga tidak begitu baik. Itu lah alasannya mengapa saat ini ia berada di kabupaten orang.

Dulunya, nenek yang akrab dipanggil Mus ini memiliki anak angkat namun beberapa tahun lalu ia ditelantarkan. Bahkan sertifikat rumah satu-satunya yang ia punya digadaikan oleh anak angkatnya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

Mus juga telah menikah dua kali, namun suami pertamanya meninggal sebelum dikaruniai anak. Begitupun dengan suami keduanya yang ditinggal lebih dulu ke Maha Pencipta dengan meninggalkan satu orang anak. Namun, tak lama setelah anak itu lahir, menyusul ayahanda ke akhirat.

Keluarganya yang berada di Ponorogo pun sering menyiksa dan memukuli Mus. Hingga akhirnya Mus diusir dari rumah. Tanpa membawa uang sepersen pun, ia berjalan kaki menuju Gunungkidul hingga bertahan sampai sekarang.

Saat itu, fisik Mus masih kuat. Ia bahkan sempat bekerja di Gunungkidul bersama seorang welas asih yang mengajaknya. Hasil upah dari bekerjanya itu lah ia tabungkan untuk membuat rumah yang sekarang ini ia tempati.

Tetangga Mus, Sabiti mengatakan, Mus memang sama sekali tak pernah mendapat bantuan pemerintah. Dia sering mengeluhkan tentang kondisi hidupnya kepada tetangganya itu.

Kami sama-sama tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah. Padahal, Mus hidup sebatang kara disini, tak punya keluarga dan hidup pas-pasan,” ujarnya, Minggu (13/05/2018).

Kini Mus lebih pasrah dengan keadaan yang ditanggungnya. Sambil menunggu akhir hayat, ia memiliki harapan ingin menghembuskan nafas terakhir di rumahnya yang ia bangun dari hasil kucuran keringat sendiri. (Sepdita)