Lama Putus Ganggu Aktifitas, Warga Bangun Jembatan Darurat Jelok dari Papan Bekas
Sosial

Lama Putus Ganggu Aktifitas, Warga Bangun Jembatan Darurat Jelok dari Papan Bekas

Patuk,(gunungkidul.sorot.co)--Sejak putusnya jembatan Jelok pada November 2017 lalu, aktifitas warga menjadi tersendat. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses utama warga Padukuhan Jelok, Desa Beji, Kecamatan Patuk.

Alhasil, mereka pun harus keluar masuk daerah dengan mengandalkan sebuah perahu yang ditarik tambang dan dipungut bayaran. Hingga beberapa bulan berselang, belum ada rencana pembangunan jembatan yang dilakukan.

Menyikapi hal itu, warga dan Karang Taruna setempat terus bebenah dan memikirkan tindakan untuk dapat meringankan beban masyarakat. Dari pemikiran-pemikiran sejumlah tokoh, disepakati akan dilakukan pembangunan jembatan darurat.

Hanya menggunakan papan bekas jembatan yang putus, karangtaruna membuat jembatan alternatif di samping jembatan lama. Jembatan alternatif tersebut dibuat sekokoh dan seaman mungkin oleh warga. Ratusan papan dijajar di atas permukaan air sungai. Sedangkan di bawah papan pada dasar sungai, diberi karung-karung berisi pasir.

Untuk lebih memastikan keamanannya saat dilewati pejalan kaki dan sepeda motor, samping kanan dan kiri jembatan dipasangi bilah-bilah bamboo dan juga lampu sebagai penerangan di malam hari.

"Baru beroperasi 4 hari, kami buat sedemikian rupa karena memang prihatin dengan kondisi jika setiap melintas harus menggunakan perahu bayar 4.000, belum lagi penitipan motor disebrang," ucap Ketua Karang Taruna Jelok, Subandi, Rabu (16/05/2018).

 

Lebih lanjut ia mengatakan, jembatan yang dibuat ini selain untuk mempermudah akses masyarakat, juga sebagai pemupuk semangat warga. Pasalnya selama jembatan Jelok putus, perekonomian warga turun drastis dan semangat untuk bercocok tanam pun juga sedikit lesu, bahkan sempat tidak terurus.

Dengan diadanya jembatan alternatif ini diharapkan mampu memperlancar akses warga. Mengingat sebelumnya selain harus menggunakan perahu, warga yang bepergian harus memutar arah hingga 20 kilometer melewati hutan dan lintas kecamatan.

"Ini juga sebagai persiapan ramadhan dan lebaran, ada terobosan yang akan kami lakukan untuk mendongkrak Jelok kembali dikenal orang," tambah dia.

Sementara itu, Sagimin (68) warga Padukuhan Krakalan, Desa Beji mengaku merasa terbantu dengan adanya jembatan alternatif yang dibuat oleh Karang Taruna dan warga tersebut. Pasalnya meski ia bukan warga jelok namun setiap harinya ia melintasi akses tersebut.

"Memang bukan warga sini, tapi setiap hari harus cari pakan ternak dan jalannya harus lewat sini. Beberapa bulan belakangan ini harus lewat Ngleri yang jaraknya cukup jauh. Sangat merasa terbantu sekali tentunya," ucap dia.