Peternak Mulai Sulit Dapat Pakan, Sapi Terancam Malnutrisi
Ekonomi

Peternak Mulai Sulit Dapat Pakan, Sapi Terancam Malnutrisi

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)-- Memasuki musim kemarau, banyak peternak di Gunungkidul mulai mengeluhkan susahnya mendapatkan hijauan pakan ternak (HMT). Hal tersebut tentu berdampak pada berkurangnya jatah makan berupa tumbuhan hijau bagi hewan ternak. Akibatnya, ternak-ternak tersebut mudah mengidap penyakit malnutrisi.

Penyakit malnutrisi sendiri disebabkan lantaran hewan kekurangan asupan nutrisi yang ditandai dengan badan ternak semakin kurus. Tahun 2018 dari bulan Januari- April ada 44 kasus sapi yang terjangkit penyakit malnutrisi di Gunungkidul. Hal tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun kemarin yang hanya 34 sapi penderita.

"Kesediaan pakan di Gunungkidul menipis, air juga menipis. Tangki sudah hilir mudik kesana kemari, tapi itu untuk manusia. Untuk hewanya nomor 2," jelas Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmavet Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Retno Widyastuti, Kamis (07/06/2018).

Ia melanjutkan, sebelum terjangkit malnutrisi, terlebih dahulu sapi biasanya mengalami kepincangan. Kondisi ini dialami indukan sapi yang masih menyusui anaknya. Semakin lama sapi menyusui, maka semakin habis kandungan kalsium dalam tubuh sapi yang terdapat dalam tulang panjang. 

"Penyakit tersebut merupakan penyakit metabolisme karena kekurangan zat yang dibutuhkan oleh sapi. Ini berkaitan dengan manajemen perawatan dan pemeliharaan, pakan juga," jelas Retno.

Ditambahkan oleh Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan, Suseno Budi Sulistiyanto, guna menyiasati penyakit malnutrisi ini, dinas setempat telah mensosialisasikan dan memberikan pelatihan kepada kelompok peternak untuk menggunakan pakan fermentasi. Dengan memanfaatkan dedaunan kering dan juga jerami pakan fermentasi dapat dibuat dan tidak kalah bergizinya dengan pakan hijauan.

"Dengan difermentasi tersebut ternyata tidak menimbulkan masalah bagi tubuh sapi. Justru akan menambah nutrisi bagi sapi saat musim kemarau datang," jelasnya.

Dengan pakan alternatif tersebut, diharapkan Gunungkidul tidak akan kekurangan lagi pakan ternak di musim kemarau. Oleh karenanya ia berharap ada beberapa pionir yang membat pakan ternak alternative agar bisa diikuti oleh yang lainnya. [Sepdita]