Cerita Nunik, Penyandang Disabilitas yang Kerap Ditolak Perusahaan
Sosial

Cerita Nunik, Penyandang Disabilitas yang Kerap Ditolak Perusahaan

Playen, (gunungkidul.sorot.co)-- Kaum disabilitas dalam dunia perekrutan kerja sering tidak mendapatkan tempat. Hal inilah yang pernah dialami Nunik Wahyu lestari (21) seorang penyandang disabilitas asal Padukuhan Banaran 2, Desa Banaran, Kecamatan Playen.

Nunik yang hanya memiliki satu tangan ini berulang kali mendapatkan penolakan saat melamar pekerjaan. Dengan keterbatasannya itu, ia dianggap tidak memiliki kemampuan mumpuni, padahal menurut dia, satu tangan yang dimilikinya masih bisa difungsikan dengan baik.

"Saya dulu cari pekerjaan dimana-mana tidak diterima, karena keterbatasan saya ini," terang Nunik, Selasa (26/06/2018).

Berkat rasa pantang menyerahnya untuk mendapatkan pekerjaan, kini ia bisa bekerja di sebuah perusahaan kaos tangan di Desa Gading bagian menjahit. Ia pun bisa membuktikan bahwa dibalik keterbatasan fisiknya, ia bisa bekerja dengan baik, bahkan tak kalah dengan pegawai lainnya yang memiliki fisik normal. 

Hal ini dibuktikan sendiri oleh Nunik, dengan keterbatasannya, ia menjahit satu per satu kaos tangan dengan begitu semangat. Militansinya dalam bekerja, juga untuk menunjukan ke khalayak ramai bahwa keterbatasan bukan alasan untuk ia bermimpi.

"Saya ingin membuktikan bahwa semua orang berketerbasan itu punya mimpi, tidak selayaknya dipandang sebelah mata," ucap Nunik.

Ia juga berharap agar orang-orang seperti dirinya harus diberi kesempatan untuk bekerja dan jangan dipandang sebelah mata. Pasalnya, ia yakin bahwa disabilitas juga mempunyai kelebihan yang tak bisa dianggap remeh.

"Setidaknya beri kami kesempatan, sebab tidak semua yang cacat itu tidak bisa apapun, pasti ia punya kelebihan," imbuhnya.

Sementara itu, Rida Musthofa selaku penanggung jawab usaha kaos tangan tempat Nunik bekerja, pihaknya memang sudah mempekerjakan para disabilitas sejak tahun 2014 lalu. Menurutnya, di perusahaan miliknya tersebut kini telah ada sebanyak 3 penyandang disabilitas yang bekerja disana.

Rida akui, pada awal hendak merekrut penyandang disabilitas, sempat terlintas kekhawatiran terkait kemampuannya untuk bekerja. Kendati demikian, ia meyakini bahwa Nunik dan rekan lain yang memiliki keterbatasan tersembunyi kelebihan yang istimewa.

"Saya pernah berfikir apa mampu para penyandang difabel itu bekerja di tempat saya. Tapi saya yakin kalau mereka memiliki kelebihan. Buktinya mereka bisa bekerja seperti orang normal lainnya," terang Rida.

Di perusahaan tersebut, Nunik dan penyandang disabilitas lainnya tetap mendapat perlakuan sama dengan karyawan lainnya. Meski berbeda dalam segi fisik, namun aturan yang ditetapkan tetap berlaku kepada semua karyawan tanpa memandang bulu. Hal ini dilakukan untuk menyamaratakan kedudukan sehingga tidak menimbulkan kesenjangan antara disabilitas dengan yang bukan.

"Tidak ada perlakukan berbeda antara yang normal dan yang difabel. Kami memberikan upah UMR dan BPJS juga. Kalau ada yang sakit dan harus dirawat, kami bersama karyawan lainnya turut menjenguk juga," imbuh dia. [Sepdita]