Kekeringan Hebat, Warga Ngricik Nekat Konsumsi Air Keruh
Sosial

Kekeringan Hebat, Warga Ngricik Nekat Konsumsi Air Keruh

Rongkop, (gunungkidul.sorot.co)--Kekeringan mulai merambah di berbagai daerah di Kabupaten Gunungkidul belakangan ini. Sejumlah sumber air seperti sumur, sungai, dan telaga secara perlahan mulai mengering.

Ketersediaan akan air bersih mulai menipis. Mau tidak mau masyarakat harus memutar otak untuk tetap hidup, salah satunya dengan membeli air tanki swasta. Bahkan mirisnya lagi, sebagian warga kepepet memanfaatkan air tidak layak pakai, terlebih untuk dikonsumsi.

Di Padukuhan Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop misalnya. Demi tetap bertahan hidup, masyarakat memanfaatkan air telaga. Kondisi air telaga yang mulai surut membuat keadaan air berubah menjadi berwarna kehijauan.

Kondisi air keruh tersebut masih digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai aktivitas, seperti mandi, mencuci, hingga minum hewan ternak. Setiap hari mereka mengangkut air telaga dengan jerigen hingga ke rumah masing-masing.

"Kalau air telaga ini kami gunakan untuk mandi, mencuci, dan mancing. Kita sudah lama pakai air seperti ini," terang Kartono, salah seorang warga Ngricik, Jumat (06/07/2018).

Kondisi air yang tak layak itu masih digunakan lantaran minimnya ketersediaan air bersih di wilayah setempat. Dengan memanfaatkan air telaga tersebut setidaknya mereka dapat menghemat pengeluaran. Sebab harga untuk membeli satu air tangki swasta mencapai Rp 100 ribu. 

Warga mengaku sudah berbulan-bulan lamanya menggunakan air berwarna hijau tersebut. Hal itu lantaran kondisi telaga yang semula jernih kini berubah kehijauan akibat mengering.

"Kalau untuk minum dan memasak, saya pakai air tanki," terangnya.

Hal serupa turut diutarakan Pati, seorang ibu rumah tangga asal Ngricik. Menurut dia, sebagian besar warga setempat sudah terbiasa menggunakan air telaga keruh setiap kali musim kemarau, sehingga tidak merasa jijik.

"Saya menggunakan air ini untuk mandi, mencuci, menggosok gigi dan untuk minum ternak," terangnya usai mencuci di telaga Banteng.