Cerita Elok Penderita Gangguan Jiwa Berambut Gondrong Mencoba Bisnis Tomblok
Sosial

Cerita Elok Penderita Gangguan Jiwa Berambut Gondrong Mencoba Bisnis Tomblok

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Selama bertahun-tahun lamanya Haryadi dan Asih merawat Haryata. Adiknya yang satu ini masuk kategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Di rumahnya Padukuhan Dunggubah 2, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Haryata mengidap gangguan jiwa lantaran tak berhasil sekolah di SMA yang ia inginkan. Gangguan terhadap psikisnya itu sudah diidapnya sejak duduk di bangku kelas 2 SMK.

"Dia dulu kepinginnya sekolah di SMA, tapi tidak diterima dan akhirnya masuk ke SMK. Sejak kelas 2 SMK itu sudah ada perilaku aneh," terang Haryadi, kakak Haryata, Jumat (06/07/2018).

Beruntung pihak keluarga pada tahun 2017 kedatangan sejumlah petugas dari Puskesmas Wonosari I. Melihat Haryata yang memiliki segudang bakat, petugas Puskesmas kemudian memberikan pendampingan kepada pria berusia 47 tahun itu. 

Tak Disangka, pendampingan rutin dan pengobatan secara gratis yang dilakukan oleh pihak Puskesmas itu bisa membuat Haryata menjadi pribadi yang lebih mandiri. Dengan keberhasilan ini, Puskesmas Wonosari I bisa bernafas lega. Pasalnya Haryata merupakan salah satu dari 68 orang penderita ganguan jiwa kategori berat yang sudah berhasil ditangani.

"Kami memberikan pendampingan kepada ODGJ-nya dibantu juga pihak keluarga. Awalnya kita juga takut dan punya rasa was-was, tapi kita juga punya trik tersendiri," terang Ariningsih Indriyati, Kepala UPT Puskesmas Wonosari I.

"Kuncinya kalau mau mendekati ODGJ itu harus ada orang yang disegani atau bahasa Jawanya orang yang digugu. Pihak keluarga juga dilarang memasung, karena ODGJ juga manusia. Mereka bukan hewan," imbuhnya.

Diceritakan, sebelum mendapat pendampingan oleh petugas, pria yang sampai saat ini belum berkeluarga itu sering melamun karena tidak semangat untuk beraktivitas. Namun setelah ada pendampingan keseharian Haryata kini lebih sibuk membuat kerajinan tomblok dan ikrak yang terbuat dari anyaman bambu. Dalam sehari pria berambut gondrong itu mampu membuat antara 3 hingga 4 buah kerajinan dari karya tangannya sendiri. Bahkan hasil kerajinannya tak kalah dengan orang waras pada umumnya.

Ya memang ada kendala, khususnya untuk pemasaran dan modal usaha yang minim. Sementara ini dia produksinya belum ajeg, nunggu ada pesanan. Harga jualnya juga masih belum menentu. Mungkin karena iba, kadang ada yang memberi uang lebih,” ucap Ariningsih.

Dibeberkan, tak hanya piawai dalam membuat kerajinan bambu, Haryata yang masih belum sembuh total pun tertarik di dunia seni rupa lantaran ia juga hobi menggambar. Lewat gambar-gambarnya ia mencoba memberitahu kepada orang di sekitarnya bahwa sejatinya ia bercita-cita bisa membangun sebuah masjid.

"Sebenarnya dia itu pintar dan juga berbakat. Bahkan termasuk kategori kutu buku juga, bacaan apa saja dibaca," pungkas Ariningsih.