Dugaan Penyimpangan Proyek Embung, Pemerintah Desa Minta Kasus Cepat Rampung
Hukum & Kriminal

Dugaan Penyimpangan Proyek Embung, Pemerintah Desa Minta Kasus Cepat Rampung

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Perkara dugaan penyimpangan pembangunan embung di Padukuhan Siraman III, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari yang ditangani oleh Polda DIY masih terus bergulir. Beberapa waktu lalu sebanyak 7 orang baik mantan Pj. Kades, Sekretaris Desa, kontraktor hingga Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dipanggil oleh penyidik untuk dimintai keterangan.

Pada kesempatan tersebut, mereka yang dipanggil dilakukan pemeriksaan intensif oleh penyidik terkait proyek pembangunan embung dan penjualan batu urug hasil pengerukan limbah. Sekretaris Desa Siraman, Tri Mulatsari mengatakan, pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik merupakan bentuk klarifikasi kepada pemerintah desa menyusul adanya laporan warga terkait dugaan penyelewengan proyek desa.

Disinggung mengenai nominal, Tri membeberkan bahwa proyek pembangunan embung tersebut menghabiskan dana sebesar Rp 48.470.000. Dana sebesar Rp 32.240.000 bersumber dari dana desa, sedangkan sisanya merupakan hasil dari penjualan limbah batu urug dari masyarakat.

"Kemarin dapat berapa ratus rit gitu, jumlah pastinya saya lupa. Hanya saja untuk yang masuk ke desa atau hasil dijual ada 120 rit dengan nominal uang Rp 20.400.000," terang Tri Mulatsari di kantornya, Kamis (12/07/2018).

Disinggung mengenai harga, penjualan limbah berupa batu urug tersebut pemerintah desa mematok harga Rp 170.000 yang secara keseluruhan masuk ke kas desa. Harga Rp 170.000 tersebut tidak termasuk ongkos truk yang digunakan untuk mengirim limbah uruk ke masing-masing tempat. 

"Itu sudah disepakati dalam Musdes yang dilakukan sebelumnya. Memang ada yang harga satu rit sampai 200 bahkan 225 ribu atau lebih. Itu tergantung dari jarak rumah dengan lokasi pengerukan. Itu pun yang mematok dari pemilik truk, bukan dari desa. Kalau dari desa hanya 170.000 itu saja," imbuh Tri.

Selain laku terjual sebanyak 120 rit, batu urug juga digunakan untuk kepentingan lain seperti pembuatan berem di jalan Siraman - Pulutan, jalan usaha tani dan tempat umum lain.

Berdasarkan pantauan, hingga kini banyak gundukan batu putih hasil pengerukan proyek embung di Padukuhan Siraman III masih tampak terlihat di lapangan sepak bola setempat.

Meski perkara masih terus bergulir, namun pihak Pemerintah Desa Siraman juga masih menunggu kelanjutan perkara ini akan seperti apa. Ataukah berlanjut atau bagaimana, yang pasti pemerintah dan warga setempat masih menanti kejelasan informasi dari aparat penegak hukum.

"Ya mudah-mudahan cepat selesai. Jadi tidak ada beban atau permasalahan lain. Ini saja kita yang tahun 2018 juga belum mulai pembangunan atau kegiatan lain. Bahkan beberapa perangkat desa dan TPK pasca perkara ini mencuat jadi takut untuk melakukan pembangunan," tutup dia.