Kekancingan Diduga Aspal, Oknum Pegawai Provinsi Dituding Ikut Bermain
Hukum & Kriminal

Kekancingan Diduga Aspal, Oknum Pegawai Provinsi Dituding Ikut Bermain

Girisubo,(gunungkidul.sorot.co)--Kasus yang menyeret Kades Balong, War dan mantan Carik, Cip sebagai terlapor ternyata benar-benar pelik. Bahkan dugaan kasus penipuan itu disinyalir juga melibatkan oknum pengurus yayasan trah kraton dan oknum pegawai di lingkup Provinsi DIY.

Kedua terlapor dituding telah merugikan investor asal Cipedak, Jakarta Selatan yaitu Padiyo. Pensiunan anggota TNI itu merasa menjadi korban dugaan kasus penipuan dengan modus penjualan tanah Sultan Ground (SG) yang kini berstatus tanah negara di kawasan Bulak Gayam, Pantai Wediombo, Kecamatan Girisubo.

Lantaran akibat yang ditimbulkan tidak main-main, Padiyo mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 700 juta. Karena dinilai melanggar peraturan, sejumlah bangunan calon penginapan miliknya kini dirobohkan oleh petugas pada akhir Maret 2018 silam.

War dan Cip dilaporkan ke Polres Gunungkidul pada 16 Mei 2018 karena berperan penting dalam dugaan kasus penipuan soal status tanah di bukit tepi pantai seluas ribuan meter persegi itu.

Padiyo, sang pelapor menyatakan bahwa ia berani membangun sejumlah gedung di Gayam lantaran mengantongi sertifikat Layang Eigendom yang diterbitkan oleh sebuah yayasan trah Kraton Yogyakarta pada tanggal 9 Juni 2017.

Layang yang ditandatangani oleh Ketua Umum Yayasan yakni R.M BM tersebut berisi kewenangan tentang pengelolaan dan pemanfaatan tanah SG selama 15 tahun yang dipercayakan kepada Mariyati alias Niken, istri Padiyo.

Selain Layang Eigendom, investor juga memiliki Surat Alih Rawat Tanah dari pengelola lama yakni warga Jepitu, Kecamatan Girisubo. Surat itu di dalamnya berisi sejumlah kesepakatan antara kedua belah pihak tertanggal 22 Mei 2016 dan ditandatangani oleh War, Kades Balong.

Eloknya guna mengurus layang yang kerap disebut kekancing itu, investor diminta membayar uang senilai ratusan juta rupiah. Namun kala itu investor baru membayar uang DP sebesar Rp 20 juta kepada yayasan di wilayah Yogyakarta. Sewaktu akan melunasi kekurangan Rp 180 juta, investor meragu karena ada gelagat mencurigakan dari oknum tertentu.

Dulu yang ikut ngurus layang kekancing itu Ka, warga Tepus dan Pak Cip,” kata Niken, Minggu (22/07/2018).

Dilain waktu, Niken sempat meminta petunjuk kepada orang Dinas Kehutanan Provinsi DIY. Namun yang didapat bukanlah rasa lega melainkan rasa kecewa. Pasalnya, surat kekancingan miliknya tersebut dimungkinkan adalah asli tapi palsu. 

Lha kok bisa? Kata orang dinas, yang berhak mengeluarkan bukan yayasan, tapi dari Panitikismo Kraton Yogyakarta,” beber Niken dikuatkan Padiyo.

Awalnya Padiyo dan Niken percaya bahwa tanah tersebut tidak bermasalah. Sebab dalam pengukuran tanah di Gayam juga melibatkan petugas dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY.

Bahkan dulu petugas itu sempat nagih ke saya soal uang 180 juta. Karena dulu perjanjiannya setelah pengukuran tanah selesai, saya harus bayar kekurangan dari 200 juta,” ungkap Niken sembari menunjukkan sejumlah dokumentasi dan fotokopi kuitansi.

Menyusul adanya dugaan keterlibatan sejumlah oknum, Niken dan Padiyo berharap kasus itu hendaknya segera bisa ditindaklanjuti oleh jajaran kepolisian.