Miris, Angka Pasung di Gunungkidul Ternyata Tinggi
Pemerintahan

Miris, Angka Pasung di Gunungkidul Ternyata Tinggi

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Pemasungan terhadap orang yang memiliki gangguan jiwa masih kerap dilakukan oleh beberapa keluarga. Mereka menganggapnya lumrah supaya tidak meresahkan dan mengganggu keluarga atau masyarakat lain.

Bahkan hal tersebut juga terjadi di Gunungkidul. Seperti yang ada pada data dari Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul. Hingga pertengahan tahun 2018 ini Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGC) yang dipasung keluarganya tercatat mencapai 21 orang.

Kepala Seksi Bina Rehabilitasi Sosial, Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Gunungkidul, Winarto mengatakan, penderita ODGJ biasanya diakibatkan beban hidup dan stres yang berat seperti ditinggal pasangan hidup, bercerai, ekonomi dan sebagainya.

"Biasanya kalau orang-orang ini mengalami beban hidup yang berat. Awal pemicunya memang seperti itu," terang Winarto.

Menurutnya, pemasungan bukan hanya sebatas pemberian rantai pada tubuh ODGJ. Namun juga kegiatan mengisolasi penderita dengan dunia luar, yaitu dengan ditempatkannya ODGJ pada ruangan/rumah tersendiri. 

Melihat pemasungan di Gunungkidul mencapai angka puluhan di tahun 2018 ini, menurut Winarto, masuk ke dalam kategori tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di DIY.

"Semua kabupaten punya ODGJ, baik ringan maupun berat. Namun kalau khusus yang pasung Gunungkidul agak tinggi," imbuhnya.

Guna menekan angka pemasungan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, dalam hal ini Dinas Sosial bekerjasama dengan Dinas Kesehatan akan memberikan pelayanan berupa pengobatan kepada para ODGJ.

"Gerakan anti pasung ini kerjasama antara Kemkes dan Kemensos. Kalau sakit domainnya dari rumah sakit dan puskesmas, dinsos hanya menfasilitasi untuk diobati. Kalau sembuh baru pekerjaan dinsos untuk direhabilitasi dan termasuk kalau ada yang ingin keterampilan kita salurkan," jelas dia.

Menurutnya, kepedulian dari pihak keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan bagi penyandang ODGJ. Masyarakat dan keluarga sebaiknya menciptakan lingkungan yang nyaman dan tidak membuat stigma yang dapat menyinggung penderita ODGJ.

"ODGJ itu tidak cukup diberi obat, mereka juga menginginkan pengakuan bahwa mereka adalah manusia yang butuh dihargai dan dihormati," pungkasnya.