Ajak Anak Millennial Dolanan Tradisional, Bidan Ikut Lomba Tingkat DIY
Pendidikan

Ajak Anak Millennial Dolanan Tradisional, Bidan Ikut Lomba Tingkat DIY

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Dua pemuda yang menginspirasi maju dalam seleksi Pemuda Pelopor tingkat DIY. Kamis (09/08/2018) dua pemuda ini mendapat penilaian dari tim juri DIY untuk menentukan apakah akan maju ke tingkat Nasional atau tidak. Salah satunya yakni Bidan cantik asal Padukuhan Gari, Desa Gari, Kecamatan Wonosari yang mendapat penilaian dari tim juri.

Ialah Septisih Windiasih Utami (24) bidan muda yang memiliki lesung pipi ini, maju dalam seleksi DIY dengan kategori meningkatkan dan dorong pendidikan karakter. Septi lebih memilih kategori ini karena pendidikan karakter selama ini luntur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berawal dari keprihatinannya terhadap anak-anak kecil di desanya yang asyik dengan handphone, ia kemudian berupaya mendirikan sebuah wadah bagi anak-anak untuk belajar bersama. Pendidikan karakter menurutnya perlu ditekankan agar anak-anak terbekali dengan pengetahuan yang luas.

Melihat banyaknya anak-anak yang bermain HP dan tidak bersosialisasi dengan sesama, ia kemudian terinsiprasi untuk membuat suatu wadah yakni Belajar Asyik Desa Gari (Bela Dega) bersama teman-temannya. Kemudian dari situlah ia mengangkat permainan tradisional dan kesenian sebagai upaya meningkatkan sosialisasi, interaksi dan nilai lainnya.

"Awalnya dulu hanya beberapa anak saja. Semakin kesini pesertanya begitu banyak 120 anak-anak dari umur 5 hingga 12 tahun," ucap dia.

Saat dilakukan oleh tim juri dari provinsi itu, Septi dihujani dengan pertanyaan yang cukup banyak. Kendati persiapan dan program-program telah dirasa maksimal, namun ada beberapa kritik membangun yang diberikan kepada Septi. Beruntung meski juri mencecer pemuda tersebut dengan berbagai pertanyaan, dirinya mampu menjawab dan memberikan sampel-sampel yang dibutuhkan. 

Misalnya saja dalam proses pengembangan dan pembelajaran, ada beberapa yang dianggap oleh juri perlu diperbaiki agar tidak bertabrakan dengan konsep lainnya. Adapun capaian dari program yang dibuat oleh Bidan disalah satu rumah bersalin di Gunungkidul itu yakni pengetahuan dan pemahaman anak-anak yang luas.

"Jadi dengan adanya program ini paling tidak anak-anak tidak kehilangan masa anak-anak. Dengan berkembangnya teknologi, waktu untuk berinteraksi kan kurang karena mereka lebih memilih memainkan handphone atau alat elektronik lainnya," tambah dia.

Meski program ini didukung oleh masyarakat dan pemerintah desa. Namun dari desa hanya mampu memberikan fasilitas sarana prasarana, jika untuk bantuan berupa dana stimulan pemerintah desa masih belum mampu. Sehingga besar kecilnya pengeluaran Septi dan teman-temannya mengeluarkan dana dari kantong masing-masing.

Selain Septi, ada satu pemuda pria bernama Dwi asal Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari yang juga maju dalam penilaian ini. Pemuda tersebut mewakili Gunungkidul dalam kategori pelestatian budaya dengan mengangkat kearifan lokal yang ada.

Terpisah, Kepala Desa Gari mengatakan dirinya sangat mendukung penuh upaya yang dilakukan oleh anak-anak muda. Pasalnya kegiatan positif yang diadakan sangat mendukung program pemerintah. Selain itu juga mengalihkan perilaku negatif yang dapat dilakukan oleh anak dan pemuda menjadi lebih bermanfaat.

Kendati demikian ia mengaku jika desa tidak dapat memfasilitasi program Bela Dega ini menggunakan uang. Namun demikian jika sarana prasarana ada yang dibutuhkan desa siap membantu melancarkan kegiatan.