Lelaki Ini Hidup Dikerangkeng Paska 20 Tahun Mengidap Gangguan Jiwa
Sosial

Lelaki Ini Hidup Dikerangkeng Paska 20 Tahun Mengidap Gangguan Jiwa

Tepus, (gunungkidul.sorot.co)--Dua pekan sudah, Subarno (40) warga Padukuhan Gude I, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus menempati balok kayu berukuran sekitar 2 x 1 meter. Sesekali ia pun juga berteriak-teriak tidak jelas. Nampaknya ini menjadi pilihan terakhir bagi Kromo Joyo (77) sang ayah untuk memperlakukan putranya yang mengalami gangguan jiwa selama 20 tahun terakhir.

Dengan pertimbangan keselamatan dirinya, istri dan tetangga, akhirnya Subarno dimasukkan ke dalam kerangkeng kayu. Meski begitu, Kromo Joyo enggan menyebut tempat baru putra keempatnya itu sebuah kerangkeng maupun kandang. Ia lebih suka menyebutnya dengan istilah rumah bagi Subarno.

Selama 20 tahun, Kromo Joyo dan istri sudah berupaya dalam penyembuhan putranya, namun hasilnya nihil. Selepas dirawat dan dibawa kembali ke rumah, sakit Subarno selalu kambuh. Hingga pada akhirnya hampir seluruh aset Kromo Joyo seperti tanah dan ternak ludes terjual demi pengobatan dan kesembuhan Subarno. Akhirnya pilihannya jatuh untuk merawat anaknya di rumah.

Namun, keberadaan Subarno di rumah membuat Kromo Joyo dan istrinya gelisah. Bagaimana tidak, Subarno kerap memukul Ayahnya. Bahkan Kromo harus tidur di atas kandang ternak supaya bisa terhindar dari sasaran amukan Subarno ketika sakitnya kambuh. Sedangkan untuk mengamankan sang istri, Kromo Joyo menyuruh istrinya menginap di rumah tetangga terdekat.

Diopeni ngamuk, tonggo liwat diantem diunek-unekne, pinten-pinten tahun ngoten mawon. Dangu-dangu ngantem kulo, nek kulo diantem niku seng ajeng ngrumat sinten, mulane kulo gawekne omah niki. Ngantem ngangge watu ajrih kulo. Satu-satunya jalan kulo gawekne omah piyambak. Niki mboten nyikso, niki kulo gawekne omah piyambak. Kulo rumat nggih pangan taseh kados panganan kulo. (Dirawat mengamuk, tetangga lewat dipukul dicaci maki. Beberapa tahun selalu begitu. Lama-lama mukul saya. Kalau saya yang dipukul, lalu siapa yang akan merawat. Memukulnya pakai batu, takut saya. Satu-satunya jalan saya buatkan rumah sendiri ini. Ini bukan menyiksa, ini saya buatkan rumah sendiri. Saya rawat makanan juga seperti makanan saya),” tutur Kromo Joyo, Selasa (09/10/2018).

Kromo juga mengaku betul-betul bisa merasakan tidur nyenyak setelah Subarno dimasukkan ke dalam tempat barunya. Namun ia masih merasakan trauma, karena sebelumnya ia harus menjadi sasaran empuk atas amukan Subarno yang tak terkendali. 

Kromo juga menuturkan bahwa Subarno sebelumnya bekerja sebagai pekerja di salah satu rumah makan di Yogyakarta. Namun sepulang dari Yogyakarta, Kromo Joyo menyadari satu hal bahwa ada yang tidak beres dengan Subarno. Sehingga ia bergegas membawanya periksa.

Menurutnya, diagnosa pertama putranya adalah stress berat. Namun di tempat yang berbeda dokter juga mendiagnosa ujung saraf yang bermasalah.

Criose stress berat pas periksa pertama, teng RS Sardjito ujung saraf. Jarene niku sejak lahir pun wonten data ngoten niku. Ngge mikir abot nggeh saget dados ngoten niku. (Katanya stres berat waktu periksa pertama, di RS Sardjito ujung syaraf. Katanya itu sejak lahir sudah ada riwayat begitu. Untuk berpikir berat ya jadinya seperti itu),” terang Kromo.

Dulunya, Kromo dan istri tidak menemukan tanda-tanda tidak beres soal gejala gangguan jiwa yang dialami Subarno. Menurutnya, Subarno dulunya memiliki kehidupan yang normal seperti merasakan pendidikan sekolah dasar bersama teman sebayanya. Namun, diakuinya Subarno memiliki intelektual yang rendah dibanding kawan lainnya.

Terhitung 20 tahun Subarno mengalami gangguan jiwa, namun upaya dari pemerintah dalam penanganan kasus gangguan jiwa belum terlihat sama sekali. Hanya sebatas upaya home visit. Tentunya perhatian dan bantuan juga turut diharapkan oleh Kromo Joyo. Meski Kromo tidak mengharap bantuan untuk meringankan bebannya, paling tidak pemerintah melirik kondisi putranya.

Harapan kulo kangge pemerintah dangu-dangu nggeh digatekne ngoten. (Harapan saya kepada pemerintah agar lam-lama semakin diperhatikan),” pinta Kromo.