Weekend Meriah, Festival Bregada Rakyat Akhirnya Mampir di Gunungkidul
Budaya

Weekend Meriah, Festival Bregada Rakyat Akhirnya Mampir di Gunungkidul

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Acara tahunan Festival Bregada Rakyat yang mempertemukan komunitas pelestari seni keprajuritan rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta akhirnya tiba di Kabupaten Gunungkidul. Acara serupa yang sebelumnya bergilir dilaksanakan di Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul dan Kulon Progo, bakal digelar akhir pekan nanti atau weekend pada Minggu (04/11) besok.

Festival Bregada Rakyat 2018 yang difasilitasi Dinas Kebudayaan DIY diikuti 18 komunitas bregada rakyat dari seluruh kecamatan se-Gunungkidul. Sejauh ini bregada rakyat Gunungkidul jumlahnya relatif lebih sedikit dari daerah lain. Kegiatan ini diharapkan dapat menggairahkan semangat para pelaku seni keprajuritan rakyat di Gunungkidul.

Arak-arakan Festival Bregada Rakyat mengambil lokasi awal dari pendapa Bangsal Sewokoprojo, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Sumarwi, Jalan Ksatriyan, Jalan Taman Bhakti, Jalan Satria, Jalan Brigjen Katamso dan finish kembali ke Bangsal Sewokoprojo.

"Jarak tempuh sekitar 2 kilometer," ujar Widihasto Wasana Putra, Ketua Panitia Acara, Sabtu (03/11/2018).

Adapun peserta yang akan tampil dalam Festival Bregada Rakyat 2018 diantaranya Giri Manggol dari Kecamatan Girisubo, Darma Agung dari Kecamatan Purwosari, Hargo Manunggal dari Kecamatan Gedangsari, Jayeng Sudiro dari Panggang, dan Guntur Rumekso dari Kecamatan Rongkop. Kemudian adapula perwakilan dari Kecamatan Patuk yaitu Klono Ciptowening, Pasopati dari Kecamatan Semin, Jaga Wana dari Kecamatan Ngawen, Wiro Manggolo dari Kecamatan Saptosari, Yudo Manggolo dari Kecamatan Tanjungsari, Sureng Pati dari Kecamatan aliyan, dan Jogoboyo dari Kecamatan Tepus. 

Selanjutnya Bekel Wongso Dikromo dari Nglipar, Joyo Laksono dari Ponjong, Wira Sanjaya dari Karangmojo, Kyai Djong Katong dari Semanu, Wiro Joyo dari Playen, serta Puspo Wilogo dari Wonosari. Total ada 1000 penampil yang akan ikut dalam acara.

Dipaparkan Widihasto, seni keprajuritan bregada rakyat memiliki kontribusi dalam pembangunan kebudayaan. Selain sebagai ajang mempererat kekompakan dan kebersamaan diantara masyarakat, juga menjadi duta seni budaya dan pariwisata dari masing-masing wilayah.

"Tujuan lainnya untuk turut menggerakkan perekonomian pengrajin busana adat dan alat musik tradisional serta aksesoris yang ada di desa-desa," ungkapnya.

Ditambahkannya, panitia membebaskan tiap bregada rakyat untuk mengkreasikan tata busana dan tata musik bregada sesuai karakter budaya masyarakat setempat. Sebagai contoh di Gunungkidul, karena dominasinya kultur pertanian maka dimungkinkan bregada tidak harus mengenakan topi mancungan atau blangkon melainkan bisa saja caping. Tidak membawa tombak namun memanggul alat pertanian pacul. Asesoris busanapun dapat dikombinasikan dengan kreasi olahan daun tanaman yang tumbuh di sekitar.

"Yang jelas panitia melarang penggunaan semua jenis atribut bermuatan politik. Panitia mengundang masyarakat luas hadir menyaksikan gelaran spesial ini," pungkasnya.