Jampi Puyeng, Ketoprak Humor yang Masih Digandrungi Penggemar
Budaya

Jampi Puyeng, Ketoprak Humor yang Masih Digandrungi Penggemar

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Seni ketoprak di kalangan masyarakat umum sudah mulai jarang peminatnya. Apalagi zaman sekarang, penonton nyaris sudah tidak ada lagi yang berdesak-desakan untuk melihat pertunjukan asli Jawa itu.

Bosan dengan cerita monoton, melihat kondisi seperti ini salah satu seniman ketoprak asal Padukuhan Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Joni Gunawan berusaha menarik minat penonton dengan membuat ketoprak kreasi modern berlabel Jampi Puyeng.

Pria berusia 56 tahun itu mengungkapkan bahwa peminat masyarakat akan kesenian ketoprak klasik belakangan ini memang mulai sunyi. Maka dari itu ia pun merancang ide untuk mengemas ketoprak menjadi lebih modern agar tidak musnah ditelan zaman.

Berdiri tahun 2004, Jampi Puyeng yang kini beranggotakan 12 orang mencoba menampilkan ide ketoprak bergaya humor dengan balutan musik campursari khas Gunungkidul.

"Setiap pertunjukan Jampi Puyeng dimana pun tempatnya khususnya di Gunungkidul, kebanyakan selalu banyak penonton. Dan mereka semua selalu terhibur," ujar Mbah Joni, Senin (05/11/2018).

Diutarakan, setiap pemain Ketoprak Jampi Puyeng sudah terlatih dan berpengalaman. Dengan berbekal selalu membaca situasi saat pentas, maka penonton pun jarang ada yang kecewa ketika menikmati ketoprak. 

Setiap pentas Jampi Puyeng dibayar Rp 15 juta dengan durasi rata-rata 4 jam,” imbuh dia.

Dikatakan, dalam setiap bulan Jampi Puyeng minimal pentas 10 kali. Jika waktu bulan ramai seperti musim rasulan, kelompoknya bisa tampil hingga 20 kali.

Ia mengungkapkan bahwa Jampi Puyeng sendiri sejak dulu sudah memiliki banyak penggemar, terutama di kalangan masyarakat pedesaan.

Pemainnya juga tidak pernah bongkar pasang. Kecuali ada yang meninggal, itu baru diganti,” ucap pria yang juga anggota Dewan Kebudayaan Gunungkidul itu.

Mbah Joni berharap agar pemerintah lebih getol mengalokasikan anggaran dalam upaya pelestarian seni dan kebudayaan. Terlebih regenerasi pelaku seni budaya semakin lama semakin mengkhawatirkan. Salah satu alasannya, sebagian pemuda merasa malu untuk menekuni dunia seni dan budaya.

Anggaran dari pemerintah yang setiap tahun ada, jangan sampai salah sasaran,” pesannya. (Devi)