Warga Salak Sulap Limbah Kayu Jadi Barang Mahal
Ekonomi

Warga Salak Sulap Limbah Kayu Jadi Barang Mahal

Patuk,(gunungkidul.sorot.co)--Suratimin (60), warga Padukuhan Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk sudah tiga tahun ini menekuni kerajinan kayu. Meski belum begitu lama, pangsa pasarnya kini sudah tembus luar pulau Jawa.

Hal ini bermula ketika ia melihat potensi kayu di desanya yang melimpah, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Masyarakat kebanyakan masih menjual kayu secara utuh atau glondongan dengan harga murah.

Ia membandingkan nilai jual kayu glondongan tersebut dengan kayu yang telah dia olah menjadi mebel. Dan ternyata hasil yang didapat jauh lebih tinggi ketika ia sudah mengolahnya menjadi barang jadi.

"Kalau saya kebanyakan pakai bahan baku kayu mahoni dan sonokeling. Jadi kayu limbah produksi mebel itu saya bikin kerajinan," ujar Suratimin, Senin (03/12/2018).

Selain mebel, Suratimin juga membuat berbagai macam kerajinan dari kayu seperti radio, gelas, piring, flashdisk, dan berbagai jenis interior. Harganya beragam, dari puluhan ribu rupiah sampai yang paling mahal adalah sepa yaitu mangkuk besar seharaga Rp 750 ribu. 

Produknya juga sudah dijual ke luar daerah seperti Sulawesi, Kalimantan, hingga Batam. Namun sampai saat ini produksinya baru mengandalkan pesanan pelanggan. Pemasarannya juga hanya mengandalkan relasi teman dan sosial media, sehingga belum dapat berkembang secara optimal.

Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan alat, terutama alat bubut. Hal inilah yang membuat masyarakat sekitar masih enggan menekuni kerajinan serupa, sehingga kebanyakan baru memproduksi berbagai jenis mebel.

Saat ini Suratimin masih mengandalkan jasa dari luar untuk membuat beberapa motif dan bentuk yang memerlukan mesin bubut.Faktor inilah yang membuat ongkos produksi kerajinan itu menjadi lebih mahal. (Hermawan)