Belasan Tahun Merintis Desa Konservasi, Semoyo Kini Jadi Desa Asri
Sosial

Belasan Tahun Merintis Desa Konservasi, Semoyo Kini Jadi Desa Asri

Patuk,(gunungkidul.sorot.co)--Desa Semoyo, Kecamatan Patuk yang belasan tahun gersang, kini menjelma menjadi tempat yang sejuk dan asri. Pasalnya setelah ditetapkan menjadi Desa Kawasan Konservasi (DKK) oleh Bupati Gunungkidul pada tahun 2007, perlindungan terhadap kelestarian lingkungan di desa tersebut semakin terjaga.

Suratimin (60) salah satu penggagas Desa Konservasi mengungkapkan bahwa saat ini desa Semoyo sudah jauh lebih asri dibandingkan beberapa tahun silam. Luas kawasan konservasi ini mencakup semua padukuhan di Desa Semoyo dengan luas mencapai 576 hektar.

Pemikiran untuk melakukan konservasi ini bermula pada tahun 2004, ketika Suratimin dan beberapa orang rekannya merasa resah dengan lingkungan desanya yang mulai rusak. Saat itu dia mulai membentuk Serikat Petani Pembaharu (SPP) dengan belasan teman yang memiliki keresahan serupa.

"Ada beberapa permasalahan seperti penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, penggunaan obat kimia yang banyak, itu kan menjadi salah satu yang merusak lingkungan," ujar Suratimin, warga Padukuhan Salak, Desa Semoyo, Senin (03/12/2018).

Usaha konservasi ini melalui proses yang tidak singkat, Suratimin dibantu beberapa LSM saat itu harus melakukan studi banding ke berbagai tempat hingga puluhan bahkan ratusan kali. 

Tantangan lain yang tidak kalah berat adalah menjaga kekompakan dan membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Bahkan sampai saat ini menurut Suratimin persoalan tersebut masih kerap dialami.

"Paling berat adalah menjaga kekompakan masyarakat itu, sampai sekarang pun masih ada minus dan plusnya," tambah pria yang pernah meraih penghargaan Kalpataru di tahun 2013 itu.

Dalam usaha mensosialisasikan programnya, Suratimin sampai mendirikan sebuah radio di rumahnya yang diberi nama Radekka, kependekan dari Radio Desa Kawasan Konservasi. Melalui Radekka, Suratimin sangat rajin mensosialisasikan program yang mengandung edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat.

Radio sendiri dipilih karena dirasa lebih fleksibel, dimana masyarakat bisa mendengarkan sambil melakukan pekerjaan sehari-hari. Selain melakukan sosialisasi melalui Radekka, kelompoknya juga kerap memberikan pelatihan kepada masyarakat seperti membuat pupuk dan pestisida alami.

Saat ini, Desa Semoyo telah menjadi rujukan banyak desa lain untuk melakukan konservasi. Selain itu, beberapa lembaga pendidikan juga menjadikan Semoyo sebagai tempat studi banding dan penelitian.

Suratimin berharap adanya kebijakan tegas dari pemerintah untuk mendukung program konservasi ini. Pasalnya usaha yang dilakukan oleh kelompoknya akan sulit mencapai hasil yang diinginkan tanpa ada dukungan dari pemerintah. (Hermawan)