Berantas Hama se-Gunungkidul, Pemkab Cuma Sediakan Bantuan Rp 10 Juta
Ekonomi

Berantas Hama se-Gunungkidul, Pemkab Cuma Sediakan Bantuan Rp 10 Juta

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Sebagian besar penduduk Kabupaten Gunungkidul masih bergantung pada sektor pertanian sebagai andalan. Pada musim tanam kali ini sebagian dari mereka merasa resah karena tanaman padi terserang hama.

Seperti halnya dialami puluhan petani warga Desa Bohol, Kecamatan Rongkop. Sejak akhir bulan November 2018, mereka merasakan serangan hama ulat yang begitu mengganas menggerogoti daun padi hingga ludes.

Menyusul adanya upaya antisipasi serangan hama tanaman se-Gunungkidul, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2018 ini hanya menyediakan bantuan obat - obatan senilai Rp 10 juta. Bantuan tersebut berupa pestisida untuk ulat gayak ataupun kutul dan dentisida untuk hama tikus.

Program yang dibiayai oleh APBD Gunungkidul tersebut menyasar lahan pertanian sekitar 47.865 hektar terdiri sawah 7.865 hektar dan ladang tadang hujan 40.000 hektar.

Kami sediakan obat hama ini sebagai stimulan bagi petani untuk menangani berbagai macam hama,” kata Ir. Bambang Wisnu Broto di ruang kerjanya, Selasa (04/11/2018) siang.

Bantuan tersebut bisa diakses masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani. Syaratnya, kelompok tani harus mengajukan surat permohonan disertai surat rekomendasi dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kemudian diajukan ke dinas. 

Menurut data yang berhasil dihimpun di dinas setempat sejak tanggal 30 November 2018 sampai saat ini sudah ada lebih dari 6 kelompok tani yang mengajukan permohonan bantuan obat hama. Stok di dinas saat ini ada 4 box pestisida, dentisida 5 box. Setiap 1-2 liter dentisida bisa untuk membasmi hama tikus sekitar 1 hektar.

Sementara itu, Ir. Raharjo Yuwono, Kabid Tanaman Pangan DPP Gunungkidul menambahkan, bantuan obat-obatan tersebut diperuntukkan bagi kelompok tani yang sudah melakukan gerakan pengendalian hama terpadu.

Maksudnya, lanjut dia, masyarakat diharapkan harus lebih dulu melakukan pengendalian memakai cara yang hayati. Caranya bisa dengan menjaga keseimbangan alam, membersihkan lingkungan lahan, dan pengairan yang baik.

"Obat kimia adalah cara terakhir. Terlebih dulu diusahakan pakai cara hayati, melalui gerakan pengendalian hama terpadu yang dilakukan oleh masyarakat," pungkas Raharjo. (Cholil)