Tangkap Trenggiling, Warga Tanjungsari Divonis Lima Bulan Penjara
Hukum & Kriminal

Tangkap Trenggiling, Warga Tanjungsari Divonis Lima Bulan Penjara

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Usai kedapatan menangkap trenggiling, Kan (53), warga Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari dihukum kurungan penjara 5 bulan oleh Pengadilan Negeri (PN) Wonosari. Vonis dijatuhkan majelis hakim PN Wonosari pada 1 November 2018.

Dalam putusannya, hakim menilai Kan terbukti melanggar Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 karena dengan sengaja menangkap satwa yang dilindungi dalam keadaan masih hidup.

Dia kemudian dijatuhi pidana penjara selama 5 (lima) bulan dikurangi masa tahanan serta denda sejumlah 5 juta rupiah subsider kurungan selama 1 bulan.

Kasusnya sudah diputus (hakim),” ujar Ketua Pengadilan Negeri Wonosari, Husnul Khotimah, kepada sorot.co, Rabu (05/12/2018) siang.

Kan ditangkap oleh polisi hutan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan didampingi Satreskrim Polres Gunungkidul serta Polsek Tanjungsari pada 23 Juli 2018. Saat penggerebekan di rumahnya, Kan kedapatan memelihara 5 ekor trenggiling yang diakui didapat dari hasil berburunya. Bersama barang bukti, dia kemudian ditangkap oleh aparat. 

Menurut Pengelola BKSDA Stasiun Flora Fauna Bunder, Agus Sunarto, sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul memang menjadi tempat hidup trenggiling. Meski tersebar di beberapa wilayah, populasi hewan pemakan serangga, semut dan rayap, ini banyak bermukim di hutan seperti Kecamatan Tanjungsari dan Kecamatan Ngawen.

Dikatakan, hewan trenggiling hasil buruan biasanya akan dijual dan dimanfaatkan sebagai bahan kecantikan.

Kalau untuk trenggiling itu dari informasi datanya itu diperjualbelikan nanti diperlukan bisa untuk sebagai bahan korsmetik, sisiknya yang dipakai untuk itu,” ucapnya.

Menyikapi ini, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Gunungkidul, Asnawi Mukti mengakui masih banyak masyarakat Gunungkidul yang belum paham terkait hukum menangkap hewan liar yang dilindungi. Dampaknya, pemburu hewan harus berurusan dengan hukum dan ditangkap oleh aparat.

Orang kampung di sini mayoritas tidak ada yang tahu, karena menangkap trenggiling mereka harus terkena (perkara) ini,” ucap Asnawi.

Dia pun berencana menggalakkan sosialisasi dengan menggandeng pemerintah daerah dan lembaga-lembaga terkait yang memang memiliki kewenangan atas aturan-aturan tersebut. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih paham terhadap pidana yang berkaitan dengan satwa liar, perikanan dan ekosistem alam itu.

Sekedar diketahui, empat ekor trenggiling pada Rabu siang telah dimusnahkan dengan cara dibakar oleh Kejari Gunungkidul karena mati akibat trauma berkelahi dan stres selama penangkaran di Stasiun Flora Fauna Bunder, Playen. Adapun satu ekor sudah terlebih dahulu dikubur oleh BKSDA Yogyakarta.