Gunung Bagus Viral Jadi Spot Foto, Warga Dihimbau Tak Rusak Jagung
Wisata

Gunung Bagus Viral Jadi Spot Foto, Warga Dihimbau Tak Rusak Jagung

Paliyan,(gunungkidul.sorot.co)--Dalam beberapa hari terakhir, areal hutan rakyat di Gunung Bagus, Desa Giring, Kecamatan Paliyan ramai jadi pembicaraan jagad maya. Sebab sebelumnya beredar foto-foto menawan Gunung Bagus yang menyerupai bukit Wairinding di Sumba, Nusa Tenggara Timur di media sosial.

Sejatinya Gunung Bagus bukanlah obyek wisata. Tempat ini merupakan hutan jati yang lebat. Namun setahun lalu hutan jati tersebut dibabat untuk diganti dengan varietas jati unggul yang pertumbuhannya dinilai lebih cepat.

Seiring menunggu proses penanaman kembali pohon jati, masyarakat memanfaatkan lahan terbuka itu untuk bercocok tanam. Saat ini lahan tersebut dibuat hijau oleh hamparan tanaman jagung setinggi dada orang dewasa.

Setelah hutan seluas 82 hektar lebih itu dibuka, maka terpampanglah bukit-bukit indah yang tadinya tertutup oleh rimbun pohon jati. Karena saking cepatnya arus informasi, tidak butuh waktu lama Gunung Bagus pun viral dan banyak didatangi oleh para pemburu foto.

Desrita (21), salah satu pengunjung asal Plumbungan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo yang tengah asyik berfoto ria mengungkapkan kepuasannya dengan panorama alam yang disajikan Gunung Bagus.

Puas sih, soalnya enak, sejuk juga,” ujarnya Sabtu (05/01/2019) pagi.

Senada dengan Desrita, Adi Prasetyo (28) yang jauh-jauh datang dari Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul untuk mengisi liburan juga tidak kecewa setelah melihat langsung hijaunya perbukitan di Gunung Bagus. 

Namun ia berpesan kepada setiap pengunjung untuk bijak dalam berwisata, mengingat areal sekitar merupakan lahan perkebunan yang dikelola petani. Jangan sampai terjadi kasus-kasus seperti sebelumya yang membuat tanaman-tanaman warga menjadi rusak.

Ya tentunya secara umum kewajiban manusia kan menjaga lingkungan, yang harus diperhatikan sampah ya. Terus para pengunjung khususnya penggiat fotografi juga harus belajar lah. Jangan sampai kasus-kasus sebelumnya terulang lagi,” ungkap Adi.

Sementara itu Bambang (60), salah satu petani asal Desa Monggol, Kecamatan Saptosari mengungkapkan bahwa para petani tidak keberatan dengan banyaknya pengunjung yang datang ke tempat tersebut untuk berwisata. Namun ia berpesan supaya para pengunjung bisa bersikap bijak, dalam artian tidak merusak ladang baik yang dikelola warga maupun pemerintah.

Biasanya banyak (pengunjung), dari pagi sampai sore, apalagi kalau liburan. Ya cuma dibilangi, yang penting jangan nginjak-nginjak tanaman jagung, itu saja. Kalau mau foto-foto ya silakan, yang penting itu tadi,” ujar Bambang dengan berbahasa Jawa disela kesibukannya bercocok tanam. (Hermawan)