Meski Cuma Lulusan SD, Pria Ini Sukses Jadi Penjahit Terkenal
Ekonomi

Meski Cuma Lulusan SD, Pria Ini Sukses Jadi Penjahit Terkenal

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Sebuah kesuksesan tidak mungkin terjadi begitu saja. Ada proses panjang yang dilewati sebelum seseorang bisa mencapai sebuah kesuksesan. Begitu pula dalam hal membangun sebuah usaha.

Seperti kisah seorang pria bernama Sagino (51), pemilik usaha jahit Classic di Padukuhan Sumbermulyo, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari. Ia mengawali sebuah usaha jasa jahit mulai dari nol. Perjuangannya pun begitu panjang dan tak mudah dilewati.

Sagino mengaku tidak meneruskan sekolah ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena keterbatasan biaya.

Awal mula dirinya menjadi penjahit, sejak kecil ia sudah bekerja membantu kerabatnya yang mempunyai usaha jasa jahit. Seiring berjalannya waktu, ia tidak hanya menjadi buruh jahit, tetapi juga pernah menjadi tukang becak untuk menambah penghasilannya.

"Dulu tahun 1981 saat saya mulai belajar jahit, upahnya 1 potong jaman dulu sekitar 125 perak. Kemudian setelah pulang dari buruh saya melanjutkan narik becak," ujarnya, Kamis (10/01/2019).

Ia pun sempat pergi ke Jakarta untuk merubah nasib. Tapi hal itu sama saja. Di ibu kota ia hanya menjadi sebagai penjaga villa. Dan akhirnya ia memutuskan pulang ke Gunungkidul untuk meneruskan keahlian jahitnya. 

Saat kembali menjadi buruh jahit, beberapa temannya cocok dengan hasil jahitannya. Semenjak itu banyak langganan yang berdatangan untuk memakai jasanya dan berdirilah Classic di tahun 1989.

"Yang saya jahit khusus pakaian cowok. Dulu sempat juga saya jahit pakaian cewek dan cowok. Kenapa sekarang hanya fokus di seragam sekolah, seragam instansi, dan pakaian cowok, karena kalau pakaian cewek modelnya lebih rumit," imbuh Sagino.

Bapak yang dikaruniai dua orang anak itu kini sudah telah mempunyai 7 karyawan dan bisa meraup keuntungan bersih sekitar Rp 800.000 per hari.

"Saya hampir nggak pernah menghitung keuntungan. Ya setidaknya per hari ada 14 potong baju, sudah bisa membantu perekonomian saya," tambahnya.

Dijelaskan, Sagino mematok tarif per 1 setel baju untuk seragam pegawai Rp 260.000 dan seragam sekolah Rp 220.000.

Ia berharap kedepannya ada salah satu anaknya yang bisa meneruskan usaha jahitnya. Karena sampai kapan pun jasa seorang penjahit tetap akan dibutuhkan oleh masyarakat. (Devi)