Meski Keterbatasan Fisik, Atlet Difabel Belajar Jadi Pengusaha
Sosial

Meski Keterbatasan Fisik, Atlet Difabel Belajar Jadi Pengusaha

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Memiliki kondisi fisik yang tidak sempurna seringkali dipandang sebelah mata oleh orang lain. Meskipun hidup dalam keterbatasan, bukan berarti harus hidup dalam kesedihan.

Dengan penuh semangat, seorang penyandang difabel bernama Supriyadi (28) membuktikan bahwa dirinya tidak hanya menjadi tanggungan keluarga, namun juga bisa diberdayakan.

Pemuda yang akrab dipanggil Supri ini merupakan warga Padukuhan Ngasem, Desa Getas, Kecamatan Playen. Menurut cerita dari orang tuanya, anak kedua dari tiga bersaudara ini diketahui mengidap penyakit polio sejak ia berusia satu tahun. Hal inilah yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan lagi layaknya orang normal kebanyakan.

Tidak ingin terus pasrah dan menyerah akhirnya pria ini memberanikan diri mengikuti kursus desain grafis. Kursus tersebut ia jalani di sebuah lembaga peduli disabilitas tahun 2012 silam. Berkat keterampilan yang ia miliki, tahun 2015 anak dari pasangan Damun dan Sumirah tersebut membuka usaha percetakan dan sablon di rumah.

Meskipun hanya ia kerjakan sendiri, namun usahanya tersebut tetap eksis hingga saat ini. Setiap bulannya mampu mendapat omzet Rp 2 juta dari usahanya.

"Saya suka desain, maka dari itu saya jadikan usaha. Saya melayani sablon kaos, undangan, sablon cetak, kartu nama, dan segala macam cetak," papar Supri, Rabu (06/02/2019).

"Kalau undangan sampai 1.000 kalau baru musim itu sampai 2.000. Yang paling banyak diminati itu undangan sama kaos. Kalau kaos harganya Rp 50 ribu - Rp 70 ribu dan kalau undangan Rp 1- Rp 5 ribu," imbuhnya.

Tak hanya menjadi seorang wirausaha, Supri juga dikenal sebagai atlet angkat berat oleh masyarakat. Pertemuannya dengan Untung Subagyo seorang atlet angkat berat senior Gunungkidul beberapa tahun silam telah memotivasinya untuk terjun di dunia olahraga.

Selama berkarir sebagai atlet, berbagai perlombaan dan kejuaraan telah ia ikuti.

"Tahun 2016 saya pertama ikut itu pekan Paralympic Kabupaten dapat juara 3, tahun 2017 Kejurnas dapat perak, 2018 Kejurda perak, 2019 Peperda di bulan Oktober nanti di Jogja dan rencananya 2020 ke Papua," jelasnya.

"Harapan saya agar kedepan pemerintah bisa memperhatikan nasib teman-teman difabel, mungkin memberikan pelatihan dan ketrampilan bagi mereka yang belum punya keterampilan," harapnya.