Ancaman dan Tekanan Kerap Diterima Korban Kekerasan Seksual
Sosial

Ancaman dan Tekanan Kerap Diterima Korban Kekerasan Seksual

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Anak di bawah umur masih menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan seksual. Berdasarkan catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKBPMD) Kabupaten Gunungkidul, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, masih banyak anak di bawah umur yang menajdi korban kekerasan seksual di Gunungkidul.

Di tahun 2016 ada sebanyak 36 anak di Gunungkidul yang mengalami kekerasan seksual, tahun 2017 ada 17 anak, dan di tahun 2018 ada 5 anak. Angka ini selalu berada di atas jumlah korban perempuan dewasa yang mengalami kekerasan seksual.

Kepala P3AKBPMD Kabupaten Gunungkidul, Sudjoko melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rumi Hayati mengungkapkan, rentannya kekerasan seksual terhadap anak terjadi karena beberapa hal, seperti posisi korban yang lemah.

Karena yang pertama posisinya memang, barang kali si anak itu dalam posisi tidak berdaya, mungkin dia disabilitas,” ujar Rumi Hayati ketika ditemui di kantornya, Jumat (08/02/2019).

Selain itu, pelaku kekerasan seksual terhadap anak juga kerap mengintimidasi korban menggunakan relasi kuasa yang ia miliki.  

Yang kedua dia takut, karena diancam dan ditekan, biasanya dia seperti itu,” tambah Rumi.

Berdasarkan temuannya di lapangan, Rumi juga membeberkan alasan pihak korban kekerasan seksual enggan melaporkan pelaku, terutama ketika pelaku adalah keluarga korban sendiri. Menurutnya pihak korban memilih untuk tidak melaporkan pelaku karena kebetulan pelaku memegang peran sentral di dalam keluarganya.

Misalnya ayah (pelaku), kemudian si ibu tahu sebenarnya, tapi dia tidak melaporkan, karena memang si ibu ini tidak punya kekuatan untuk mandiri, sehingga tidak dilaporkan,” ujar Rumi.

Kemudian jika kekerasan seksual terjadi di lingkungan sekolah, pihak sekolah biasanya cenderung menutup kasus tersebut dan memilih untuk menyelesaikannya secara internal. Hal ini dipilh oleh pihak sekolah demi menjaga nama baik institusinya. Hal dinilai menjadi kendala tersendiri dalam upaya penegakan hukum kekerasan seksual.

Menurut Rumi, anak-anak perlu diberikan pengetahuan tentang seks sejak dini, misal bagian-bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain serta apa saja bentuk-bentuk tindak kekerasan. Selain itu, setiap ibu rumah tangga juga perlu diberikan keterampilan, sehingga jika suatu saat sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga melakukan kekerasan seksual, pihak korban tidak ragu lagi untuk melaporkan pelaku.

Rumi juga mengutarakan, bahwa regulasi yang ada terkait perlindungan anak saat ini sebenarnya sudah sangat tegas. Tidak hanya pidana denda dan penjara, bahkan dalam Perppu No. 1 tahun 2016 tentang perlindungan anak disebutkan bahwa hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dapat dihukum kebiri secara kimia dan pemasangan cip.

Sebenarnya undang-undangnya kan sudah jelas, ada yang sampai dikebiri secara kimia, sebenarnya pemerintah melakukan perlindungan kepada anak itu sudah luar biasa. Hanya saja mungkin karena beberapa hal pelaksanaannya menjadi kurang optimal. Di balik itu barang kali ada sesuatu yang, kita nggak tahu,” pungkas Rumi. (Hermawan)