Matur Pak Immawan, Seniman Curhat Banyak Job Manggung Batal
Budaya

Matur Pak Immawan, Seniman Curhat Banyak Job Manggung Batal

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Pandemi Covid-19 dirasakan di semua sektor termasuk dunia hiburan. Bisnis hiburan yang selama ini menjadi tumpuan bagi para pelaku seni kini lumpuh total.

Mereka banyak kehilangan job sebab orderan tampil diberbagai acara dibatalkan akibat imbas Covid-19. Agak sedikit bernafas lega, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang diterapkan diharapkan membuka peluang bagi seniman untuk kembali berkiprah.

Simulasi destinasi wisata, kuliner, perhotelan dan tempat publik lainnya diikuti pembukaan pemberlakuan masa uji coba digadang-gadang mampu memulihkan ekonomi bagi para pelaku usaha dibidang tersebut. Destinasi wisata dibuka, pemerintah beralasan dampaknya terhadap ekonomi cukup besar.

Tradisi hajatan di Kabupaten Gunungkidul yang mandeg juga berdampak besar bagi ekonomi masyarakat. Bagaimana tidak, pelaku yang terlibat dalam kegiatan itu banyak kehilangan penghasilan. Pengusaha persewaan, jasa rias pengantin, sound sistem, dokumentasi, dan catering yang didalam bisnis tersebut juga melibatkan pekerja yang tidak sedikit.

Namun hingga kini pemerintah belum mengeluarkan kebijakan terkait SOP tradisi hajatan bagi masyarakat. Sehingga hal itu memunculkan kekhawatiran bagi masyarakat yang ingin menggelar hajatan.

Kabar yang beredar bahwa hajatan sudah boleh digelar dengan sejumlah syarat, salah satunya dengan tidak mengundang hiburan pada acara tersebut. Beberapa job yang belakangan masuk pun akhirnya kembali dibatalkan.

Hal itu berujung munculnya kegelisahan bagi sebagian pelaku seni di Kabupaten Gunungkidul. Menurut mereka hiburan di acara hajatan berbeda dengan gelaran hiburan di panggung terbuka yang cenderung menyedot kehadiran banyak warga.

Berawal dari hal tersebut para seniman yang diwakili oleh Gathot Sujarno, Kenyit, Lekto, dan Tanti Zasifa berkeluh kesah kepada Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, Kamis (31/7/2020) sore.

Hadir di Rumah Dinas Wakil Bupati Gunungkidul, mereka diterima langsung oleh Immawan Wahyudi. Kedatangan mereka bermaksud mempertanyakan terkait dengan aturan menggelar hajatan di era Adaptasi Kebiasaan Baru, sekaligus menyampaikan kondisi seniman Gunungkidul saat ini.

"Penampilan kami bukan hanya karena nguri-uri kabudayaan, namun profesi ini juga menjadi sumber penghidupan kami. Sebenarnya kurang pas bagi kami berbicara soal ini, namun kenyataan di lapangan seniman sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bahkan ada yang sudah berniat menjual peralatan untuk memenuhi kebutuhan," keluh MC kawakan Gathot Sujarno kepada Immawan Wahyudi.


Ditambahkan Kenyit, MC sekaligus dalang wayang cakruk asal Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, peran seniman pada acara hajatan menurutnya justru saat tampil bisa sekaligus menyampaikan himbauan terkait dengan protokol kesehatan bagi tamu yang hadir secara terus menerus. 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati sekaligus Ketua Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Gunungkidul, Immawan Wahyudi langsung memberikan respon. Saat itu juga ia menghubungi sejumlah pihak di jajaran pemerintah agar segera menggelar rapat khusus membahas tentang acara tradisi hajatan bagi masyarakat.

"Memang sampai saat ini pemerintah belum menerbitkan SOP tentang acara hajatan pada era Adaptasi Kebiasaan Baru. Saya paham betul yang dirasakan masyarakat dan teman-teman seniman. Akan segera kami bahas, apabila nanti sudah ada keputusan, misal ada hajatan yang bersedia menjadi contoh saya siap hadir pada hajatan itu," kata Immawan Wahyudi.

Mendengar jawaban itu, keempat seniman senior itu mengaku cukup lega. Respon pemerintah melalui Wakil Bupati Gunungkidul sedikit membuka harapan bagi mereka untuk bisa kembali berkiprah meski dengan sejumlah ketentuan.

Para seniman hingga kini sangat menanti keputusan dalam rapat yang bakal menentukan nasib ribuan seniman dan keluarganya.