Pengelolaan Air Bermasalah, Pengurus Lawas Tidak Transparan Soal Uang
Hukum & Kriminal

Pengelolaan Air Bermasalah, Pengurus Lawas Tidak Transparan Soal Uang

Rongkop, (gunungkidul.sorot.co)--Warga sejumlah padukuhan di Kalurahan Pucanganom, Kapanewon Rongkop, sejak beberapa waktu lalu santer membicarakan adanya dugaan ketidakberesan kelompok pengelola air bersih di wilayah setempat.

Menurut informasi dari berbagai sumber terpercaya, keganjilan itu disinyalir lantaran pengelola lawas tak bisa melaporkan dana yang dikelola selama beberapa tahun.

"Saya sama sekali tidak diberi data dan arsip dari pengelola lama. Jadi saya sama sekali tidak tahu untuk persoalan itu," jelas Wahono, Ketua Pengelola Warung Air, Selasa (23/02/2021).

Wahono mengaku bahwa dirinya hanya meneruskan kegiatan dari pengelola lama. Sebelum Warung Air ada, layanan penyediaan air dikelola oleh Kelompok Peduli Pengairan (KPP) yang dibentuk pada tahun 2009 hasil respon dari permasalahan Proyek Pamsimas yang saat ini mangkrak. 

Diperoleh informasi pula dari pengelola anyar bahwa Warung Air memiliki sekitar 200 pelanggan yang berasal dari 7 padukuhan meliputi Dengok, Slawu, Tejo, Kayuareng, Banombo A dan Banombo B, dan Bungmanis. Saat ini total pendapatan setiap bulan mencapai Rp 20 juta dengan harga Rp 10 ribu per 1.000 liter air.

Menurut Ngatimin, salah seorang warga Pucanganom yang mengetahui persoalan itu, jauh hari sebelum Warung Air itu ada, pemerintah dengan dana hibah telah membangun bak penampungan air.

Namun entah kenapa, bak penampungan tersebut justru tidak digunakan sehingga terbentuklah badan usaha yang diberi nama Kelompok Peduli Pengairan (KPP). Akan tetapi selama KPP itu dibentuk sejak 10 tahun lalu, pengelola tidak pernah melaporkan hasil kegiatan usahanya kepada masyarakat.

"Jadi dulu ada program Pamsimas, tetapi dalam pembangunannya itu ada kesalahan teknis, sehingga tidak bisa digunakan. Selanjutnya KPP dibentuk kemudian bermasalah lagi, barulah setelah itu Warung Air dibentuk," beber dia.