Harga Pakan Melambung Tinggi, Beban Berat Bagi Peternak Ayam Petelur
Ekonomi

Harga Pakan Melambung Tinggi, Beban Berat Bagi Peternak Ayam Petelur

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Sejak satu tahun terakhir, para peternak ayam petelur mandiri skala kecil mengalami kesulitan akibat tingginya harga pakan. Di Kabupaten Gunungkidul jumlah peternak kurang lebih mencapai 300 orang yang tergabung dalam Paguyuban Unggas Petelur Handayani Gunungkidul dan Asosiasi Pinsar Petelur Nasional Cabang Gunungkidul.

Subandi, salah satu peternak dari Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari sekaligus Ketua Paguyuban Unggas Petelur Handayani Gunungkidul mengatakan, sejak akhir tahun 2020 harga pakan unggas terus merangkak naik, bahkan saat ini kenaikan mencapai lebih dari 25 %. Sedangkan harga jual telur lebih rendah dari Harga Pokok Produksi (HPP).

"Sejak akhir 2020, harga pakan terus naik dari Rp 270.000/zak sampai sekarang harganya Rp 340.000/zak. Dengan harga pakan segitu dihitung Harga Pokok Produksi telur (HPP) sudah mencapai Rp 22.000, padahal untuk harga jual telur dari peternak dibawah itu, yang posisi sekarang harganya cuma Rp 19.000/Kg," katanya, Sabtu (01/05/2021).

Ia mengatakan, tingginya harga pakan ini diawali dengan naiknya harga bahan baku pembuatan pakan yaitu konsentrat dan disusul juga dengan naiknya harga jagung yang tidak terkendali. 

Kondisi harga mahalnya pakan namun tidak diikuti kenaikan harga telur yang seimbang dengan kenaikan harga pakan tersebut, sangat menjadi beban berat bagi para peternak petelur di Gunungkidul. Sudah ada beberapa peternak yang putus asa menjual ayam dan juga kandangnya, karena tidak mampu menanggung biaya operasional.

Para peternak petelur di Gunungkidul juga berharap kepada dinas terkait untuk bisa membantu mengawasi peredaran telur HE (telur tetas) dari breeding atau peternakan penetasan di Gunungkidul. Karena adanya kelebihan produksi, sehingga telur tersebut tidak masuk ke mesin penetasan dan seringkali dijual di pasaran.

Padahal menurut Peraturan Menteri Pertanian RI nomer 32 tahun 2017, tertuang dalam pasal 13 ayat (4), dijelaskan bahwa Pelaku Usaha Integrasi, Pembibitan GPS, Pembibitan PS, Pelaku Usaha Mandiri dan koperasi dilarang memperjualbelikan telur tertunas dan telur infertil sebagai telur konsumsi.Terkadang dengan beredarnya telur HE di pasaran ini sangat menggangu kestabilan harga telur konsumsi.

Dimungkinkan jika kondisi ini tidak segera membaik dan tidak diatasi, maka akan banyak peternak kecil yang mengalami gulung tikar.